MEGAPOLIS.ID, PALANGKA RAYA – Aktivis lingkungan Chanee Kalaweit mempertanyakan data resmi pemerintah mengenai luas lahan yang masih terbakar. Dalam unggahannya yang viral, ia secara terbuka menanyakan kepada Presiden Prabowo Subianto bagaimana mungkin hanya 639 hektare lahan yang sedang terbakar mampu menyelimuti sebagian besar Kalimantan dengan kabut asap tebal.
Ia menulis komentar dan tak lupa mentag akun Instagram Presiden Prabowo yang berbunyi:
“Maaf bertanya, Pak… Bagaimana mungkin 639 hektare lahan yang sedang terbakar mampu menyelimuti sebagian besar Kalimantan dengan asap?. Sekadar saran saya, tanpa mengurangi rasa hormat, dari pada menerima laporan, mungkin lebih Bapak Presiden bisa mengunduh aplikasi citra satelit yang sangat umum digunakan, seperti Windy atau Zoom Earth, untuk melihat kondisi kebakaran saat ini. Dari citra satelit tersebut, terlihat bahwa luas kebakaran yang terjadi saat ini tampaknya jauh lebih besar daripada hanya 639 hektare. Demikian pertanyaan saya dan saran saya. Terima kasih @prabowo,” tulisnya.
Pertanyaan tersebut muncul setelah Kepala BNPB Suharyanto melaporkan kepada Presiden Prabowo pada Senin (12/10/2026) bahwa luas lahan yang masih dalam proses pemadaman di enam provinsi prioritas lahan gambut tercatat 639,23 hektare.
Apa Arti Angka 639 Hektare?
Angka tersebut bukan total luas lahan yang terbakar sepanjang musim kemarau 2026. Berdasarkan tabel resmi yang ditampilkan dalam rapat, berikut rinciannya:
Akumulasi luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas (Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau) mencapai sekitar 129.899 hektare (gabungan data SiPongi dan pengukuran manual lapangan). Luas yang sudah berhasil dipadamkan sekira129.260 hektare. Sisa yang masih ditangani Satgas per 12 Oktober 2026 sekira 639,23 hektare.
Dari jumlah tersebut, yang terbesar berada di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan, Kalimantan Tengah, dengan luas 513,89 hektare. Kebakaran di kawasan tersebut merupakan titik baru yang ditemukan dan sebagian besar berada di lahan mineral, bukan gambut.
Pada Rabu (14/10/2026), BNPB memperbarui angka lahan yang masih ditangani menjadi sekitar 663 hektare. Fokus penanganan tetap di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Kementerian Kehutanan menyatakan data total luas terbakar secara nasional masih dalam proses penghitungan.
Presiden Prabowo sendiri sempat mengonfirmasi ulang angka tersebut karena sebelumnya mengira luas yang masih terbakar masih mencapai puluhan hingga ratusan ribu hektare.
Realitas di Lapangan: Kabut Asap Masih Mengancam
Meski angka area yang masih aktif dipadamkan sudah jauh menurun, kondisi di lapangan masih memprihatinkan.
Di Palangka Raya dan sejumlah wilayah Kalimantan Tengah, kabut asap tetap pekat.
Konsentrasi PM2.5 sempat mencapai 1.700–2.500 µg/m³, masuk kategori berbahaya hingga sangat berbahaya. Jarak pandang turun hingga 150–200 meter. Langit berubah menjadi kuning hingga oranye.
Warga mengeluhkan sesak napas, mata perih, dan aroma khas gambut terbakar meskipun sudah memakai masker. Pengemudi ojek online, petugas kebersihan, dan pegawai swasta tetap harus beraktivitas di luar ruangan. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) berulang kali diperpanjang.
Akhmad Badawi, warga Kabupaten Lamandau menuturkan, kabut asap yang kian pekat sangat menganggu aktivitasnya.
“Sejak kabut asap melanda Kabupaten Lamandau, pendapatan kami sebagai pedagang menurun. Sangat berdampak terhadap sektor ekonomi,” ujarnya.
Warga lainnya, Winda Aldina mengatakan, kabut asap berdampak terhadap kondisi kesehatan dan produktivas. “Hingga hari ini kebakaran hutan dan lahan masih terjadi,” ujar wanita yang berprofesi sebagai pengajar dan penyanyi ini.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan mencatat secara kumulatif 283.270 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah terdampak karhutla hingga 13 Oktober 2026. Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan kasus tertinggi.
Mengapa Asap Tetap Tebal?
Pakar dan pengamat menjelaskan bahwa kebakaran di lahan gambut bersifat smoldering (membara di bawah permukaan). Bara api yang sudah tidak terlihat di permukaan masih bisa terus mengeluarkan asap dalam jumlah besar dan terbawa angin jauh. Hotspot satelit juga masih terdeteksi dalam jumlah ribuan di Kalimantan Tengah, meskipun tidak semua langsung menjadi area pemadaman aktif Satgas.
Citra satelit publik seperti Windy dan Zoom Earth yang disarankan Chanee memang menunjukkan sebaran asap dan anomali suhu yang jauh lebih luas dibanding angka “lahan yang masih ditangani”.
Antara Data Resmi dan Pengalaman Masyarakat
Pertanyaan Chanee Kalaweit menyoroti kesenjangan antara data resmi pemerintah tentang “area yang masih ditangani” dengan realitas yang dirasakan masyarakat sehari-hari. Kedua data tersebut bisa benar secara bersamaan: luas api aktif yang sedang dipadamkan memang sudah berkurang drastis, namun dampak kabut asap terhadap kesehatan, pendidikan, dan aktivitas ekonomi masyarakat masih sangat berat.
Hingga Rabu (14/10/2026), pemerintah terus mengerahkan ribuan personel, helikopter water bombing, serta Operasi Modifikasi Cuaca. Namun warga di Kalimantan masih menunggu kabut asap benar-benar menipis dan kualitas udara kembali aman untuk dihirup.(Rizky/berbagai sumber)
Diterbitkan tanggal 14 Oktober 2026 by admin












Discussion about this post