YOGYAKARTA sedang tidak baik-baik saja. Demonstrasi mahasiswa dan kelompok masyarakat pada 28 Oktober 2026, di kawasan Malioboro diwarnai kericuhan. Massa tak dikenal dilaporkan melempar batu dan petasan, sementara polisi menembakkan gas air mata.
Dugaan kekerasan terhadap demonstran juga menambah keresahan di kalangan mahasiswa dan aktivis. Identitas pihak yang bertanggung jawab atas berbagai tindakan kekerasan itu masih dipersoalkan.
Ketika ketegangan belum sepenuhnya mereda, RANS Carnival hadir di kawasan Stadion Maguwoharjo, Sleman, pada 31 Oktober–1 November 2026.
Festival hiburan tersebut justru menghadapi gelombang penolakan. Sejumlah musisi memilih mengundurkan diri dengan mempertimbangkan situasi sosial, keamanan, dan kepekaan terhadap suara masyarakat. Para pelaku UMKM juga membatalkan keikutsertaan.
Penolakan tersebut berkaitan dengan kontroversi Raffi Ahmad, pendiri RANS Entertainment sekaligus Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni.
Kehadirannya dalam Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia di Bundaran HI, Jakarta, pada 29 Oktober, menuai kritik setelah muncul dugaan peserta beratribut mahasiswa menerima bayaran.
Raffi menjelaskan bahwa dirinya hanya memenuhi undangan dan tidak terlibat dalam penyelenggaraan.
Namun, klarifikasi itu tidak menghentikan kritik. Dalam suasana sosial yang masih tegang, sebuah festival hiburan memperoleh makna politik dan menjadi sasaran cancel culture.
Hiburan Jadi Politik
Mengapa kericuhan Malioboro, kontroversi Bundaran HI, dan RANS Carnival dapat menghasilkan satu gelombang penolakan?
Niklas Luhmann memberikan petunjuk melalui The Reality of the Mass Media (2000).
Sosiolog Jerman itu menjelaskan bagaimana pemberitaan pelanggaran norma dapat berkembang menjadi skandal dan membangkitkan “a greater feeling of common concern and outrage”, perasaan kepedulian sekaligus kemarahan bersama.
Ketiga peristiwa tersebut tidak memiliki hubungan sebab-akibat otomatis. Namun, komunikasi publik menghubungkannya melalui persoalan kekuasaan, keberpihakan, dan kepercayaan.
Luhmann juga mengingatkan bahwa media cenderung menghubungkan persoalan kompleks dengan tindakan individu tertentu. Akibatnya, peristiwa yang melibatkan banyak pihak dapat menyusut menjadi cerita mengenai satu orang.
Raffi berada dalam posisi tersebut. Sosok yang sebelumnya dikenal melalui hiburan dan keberhasilan bisnis kini juga dinilai melalui kedekatannya dengan kekuasaan. Popularitas dalam industri hiburan ternyata tidak otomatis menghasilkan legitimasi politik.
Akun Instagram Raffi bersama Nagita Slavina, @raffinagita1717, kini memiliki sekitar 74,6 juta pengikut. Dibandingkan sekitar 76,74 juta pada November 2025, terdapat selisih sekitar 2,14 juta pengikut atau 2,8 persen.
Penurunan dalam hampir setahun itu tidak dapat langsung dikaitkan dengan kontroversi Bundaran HI.
Namun, angka tersebut mengingatkan bahwa popularitas digital tidak selalu stabil. Puluhan juta pengikut juga tidak otomatis berarti puluhan juta pendukung setia.
Di sinilah pemikiran Urs Stäheli menjadi menarik. Melalui The Hegemony of Meaning (2012), Stäheli mempertanyakan dominasi makna dalam teori sistem dan membuka ruang untuk memahami ketidakstabilan pemaknaan.
Identitas Raffi sebagai penghibur dan pengusaha tidak menghilang. Namun, identitas itu kini bersaing dengan pemaknaan baru sebagai figur yang dekat dengan kekuasaan.
Ketika penilaian publik berubah, aktivitas bisnis yang sebelumnya dianggap hiburan dapat memperoleh arti politik.
Kemarahan Jadi Keputusan
Seruan boikot terhadap RANS Carnival menyebar melalui Threads dan percakapan digital.
Sejumlah warganet mengajak masyarakat Yogyakarta tidak menghadiri festival, bahkan menyarankan kegiatan hiburan alternatif. Penolakan itu juga dikaitkan dengan kekecewaan terhadap pemerintah.
Menariknya, komunikasi boikot tidak hanya menghasilkan penolakan, tetapi juga solidaritas ekonomi.
Ketika beredar laporan bahwa lokasi festival sepi, muncul ajakan mendukung UMKM yang membatalkan keikutsertaan, termasuk memberikan ruang promosi bagi dagangan mereka.
Bagaimana komunikasi digital dapat menghasilkan keputusan nyata?
Dirk Baecker dalam In the Society of Digital Media (2024) membahas kompleksitas masyarakat digital yang semakin terhubung.
Kontroversi politik dapat melampaui arena asalnya, berkembang menjadi tekanan reputasi, kemudian memengaruhi keputusan ekonomi. Peran algoritma juga penting.
Elena Esposito (2017) menjelaskan bagaimana algoritma turut membentuk kemungkinan komunikasi melalui seleksi dan pengolahan informasi.
Dalam perspektif Luhmann, komunikasi berlanjut ketika pernyataan memperoleh tanggapan berikutnya.
Unggahan melahirkan komentar, komentar berkembang menjadi ajakan boikot, kemudian menghasilkan keputusan membatalkan keikutsertaan.
Ketika keputusan tersebut diberitakan, ia kembali menjadi bahan komunikasi baru.
Cancel culture akhirnya bukan sekadar kemarahan digital, melainkan komunikasi yang menghasilkan konsekuensi sosial dan ekonomi.
Ada dimensi menarik dari keputusan musisi dan pelaku UMKM untuk mundur. Secara ekonomi, pembatalan berarti melepaskan peluang pendapatan.
Namun, tidak semua keputusan dapat dijelaskan melalui perhitungan keuntungan.
Dalam masyarakat Indonesia dikenal keyakinan bahwa rezeki sudah diatur Tuhan.
Kehilangan satu kesempatan mencari nafkah tidak berarti kehilangan seluruh kemungkinan penghidupan.
Keyakinan tersebut dapat menjadi sumber keberanian menghadapi ketidakpastian ekonomi. Seseorang mungkin bersedia melepaskan peluang bisnis karena merasa ada nilai yang lebih penting dipertahankan.
Di sinilah tampak ketahanan sosial yang berakar pada religiositas dan solidaritas. Keputusan ekonomi dapat memperoleh makna moral sekaligus spiritual.
Fenomena tersebut sejalan dengan pemikiran Luhmann bahwa masyarakat modern tidak bergerak dengan satu logika tunggal.
Pertimbangan ekonomi, komunikasi politik, penilaian moral, dan keyakinan religius dapat saling bersinggungan tanpa harus memiliki cara kerja yang sama.
Tentu motivasi setiap pihak berbeda. Ada yang mempertimbangkan solidaritas, reputasi, atau keberlangsungan usaha. Keberagaman itulah yang memperlihatkan kompleksitas gerakan boikot.
Ke Mana Bola Bergulir?
Apakah gelombang pembatalan terhadap Raffi dan RANS Entertainment akan meluas atau mereda?
Luhmann menjelaskan bahwa media bekerja melalui pembedaan informasi dan bukan-informasi. Sesuatu yang mengejutkan hari ini dapat kehilangan nilai kebaruannya ketika terus diulang.
Namun, hilangnya perhatian tidak selalu berarti pulihnya reputasi. Kontroversi dapat mengendap sebagai ingatan publik, kemudian muncul kembali ketika peristiwa lain memberikan alasan untuk mengingatnya.
Pentingnya menghadapi ketidakpastian komunikasi juga menjadi perhatian Dirk Baecker dalam O Fortuna: Error Control in Communication (2026).
Tidak setiap gangguan menghasilkan perubahan yang sama karena setiap organisasi mengolahnya melalui pertimbangannya sendiri.
Dalam perspektif evolusi Luhmann, perubahan berlangsung melalui variasi, seleksi, dan stabilisasi.
Seruan boikot menghadirkan variasi komunikasi. Keputusan musisi dan pelaku usaha menunjukkan seleksi. Namun, apakah perubahan itu akan menetap dalam hubungan bisnis dan reputasi Raffi masih harus dilihat.
Gerakan penolakan mungkin mereda ketika perhatian beralih.
Ia juga dapat meluas melalui keputusan mitra bisnis, atau mengendap dan kembali muncul ketika terjadi kontroversi baru.
Risiko terbesar bagi Raffi mungkin bukan sekadar berkurangnya pengikut atau batalnya pertunjukan, melainkan ketika kegiatan hiburan dan bisnisnya semakin sulit dipisahkan dari kedudukannya dalam lingkungan politik.
Sebagai ekspresi kebebasan berpendapat, boikot dapat menjadi kontrol sosial yang sah sepanjang berlangsung damai dan menghormati hak pihak lain.
Namun, kekuatannya tidak hanya diukur dari besarnya kemarahan, melainkan juga ketepatan informasi dan perubahan yang dihasilkannya.
Dalam kacamata Luhmann, cancel culture tidak harus berakhir dengan kehancuran seseorang.
Ia dapat mereda, berubah bentuk, atau meninggalkan jejak dalam ingatan publik.
Publik mungkin dapat membatalkan sebuah festival, tetapi belum tentu dapat membatalkan seseorang.
Yang berubah justru cara masyarakat memberikan kepercayaan, menarik dukungan, dan menilai kembali sosok yang selama ini mereka kagumi.(sumber: KOMPAS)
Diterbitkan tanggal 2 November 2026 by admin












Discussion about this post