MEGAPOLIS.ID, JAKARTA – Buku kumpulan cerpen Memburu Muhammad menjadi sorotan setelah pembatalan diskusinya di Pekan Sastra Bogor, diduga karena “tekanan dan ancaman” ormas FPI. Insiden ini berujung teror kepada penulisnya, Feby Indirani, serta menambah daftar baru kasus ancaman kebebasan berekspresi.
“Ada muncul ketakutan… jangka pendek menimbulkan ketakutan dan teror, jangka panjang menimbulkan kekhawatiran untuk berkarya, kekhawatiran untuk berpikir bahkan,” kata Feby.
Dua orang yang telah membaca buku ini menilai karya Feby sebagai bentuk “dakwah”, dan kritik sosial. Mereka mendorong aparat penegak hukum mendalami kelompok yang menyampaikan ancaman dan serangan melalui media sosial kepada Feby.
Sementara itu, pengulas buku ini, Inayah Wulandari Wahid—putri keempat dari Presiden Abdurrahman Wahid—meminta semua pihak menahan diri memberi komentar soal buku ini sebelum membaca utuh bukunya.
Di sisi lain, Feby secara terbuka membuka ruang dialog terkait cerpen Memburu Muhammad kepada pihak-pihak yang mempertanyakan karya sastranya.
Ancaman dan Kejanggalan
Saat polemik bukunya mengemuka pada pekan lalu, Feby Indirani mengaku bertubi-tubi menerima teror melalui pesan pribadi di akun Instagramnya. Ia mengaku menerima ancaman doksing seperti permintaan bagikan lokasi dan “mau bunuh”.
Kiriman pesan dengan kata-kata “dajjal, lonte, betina, segala-segala itulah”, juga membanjiri kolom komentar dan pesan pribadi.
Menurut Feby, serangan ini terjadi dengan kata-kata yang hampir sama, dalam periode waktu yang sama pula, dikirim secara besar-besaran. Pengirimnya berasal dari banyak akun yang minim pengikut.
Dia bilang, serangan ini seperti “ikan piranha” yang “sangat ingin kelihatan sekali, bahwa mereka sangat ingin memancing kemarahan aku”.
Bagaimanapun, sejak Jumat (25/09), ia memutuskan menutup kolom komentar akun Instagramnya, termasuk memblokir dan melaporkan pesan berisi serangan dan ancaman.
“Aku memutuskan untuk tidak menjawab sama sekali, karena aku sudah melihat bahwa ini tidak ada gunanya. Ini sama sekali bukan ruang diskusi. Ini hanya ingin menyerang,” katanya.
Feby juga mengutarakan keprihatinannya kepada sejumlah warganet yang memberi dukungan padanya, telah menjadi korban perundungan di media sosial. Warganet ini mengaku sudah membaca karya sastra Feby.
“Tekanan yang dia dapat itu sampai masuk ke kekerasan gender berbasis online, tekanan untuk orang bahkan membaca sastra dan berpendapat soal sastra saja, itu sudah begitu besar,” katanya.
Polemik terhadap karya sastranya ini janggal, kata Feby. Musababnya, buku kedua dari trilogi bertema Islamisme Magis, ini dirilis enam tahun lalu. Buku pertamanya, Bukan Perawan Maria terbit pertama pada 2017 telah diterjemahkan ke bahasa Inggris, Italia, Jepang, dan Jerman.
Buku kedua bertajuk Memburu Muhammad yang diterbitkan Bentang Pustaka, telah dicetak sekitar 2.000 eksemplar pada 2020 dan 2022. Pembacanya diperkirakan sudah ribuan orang.
Penulis pengantar buku ini adalah akademisi, profesor hukum, sekaligus tokoh intelektual Nahdlatul Ulama (NU), Prof. Nadirsyah Hosen.
Saat ini, cetakan buku ini sulit didapat di pasaran karena stoknya sudah habis, bahkan jauh sebelum insiden pembatalan diskusinya yang semula dijadwalkan Minggu (20/09).
Feby bilang, pihak penerbit yaitu Bentang Pustaka memutuskan tidak akan mencetak ulang buku saat ini “demi menjaga integritas dan menepis tudingan komersialisasi sensasi”.
“Aku terkejut betul, karena ini buku sudah lama terbit,” kata Feby.
Polemik yang meluas dan direspons pelbagai pihak, disertai serangan masif di media sosial secara tiba-tiba, membuat Feby bertanya-tanya. Apakah polemik ini sudah direncanakan, sengaja diciptakan oleh pihak tertentu?
Feby tak bisa memberikan bukti lebih lanjut. Tapi yang pasti, ia tahu persis dampak yang ditimbulkan dari insiden ini.
“Ini preseden yang buruk bagi para penulis, bagi para kreator yang mereka kemudian mau tidak mau akan ada muncul self-censorship (swasensor),” katanya.
Selain itu, dampak lain juga berpengaruh terhadap masyarakat untuk membaca buku. Melalui insiden ini, orang-orang “ditakuti” untuk membaca buku.
Menurutnya, dalam kasus ini diskusi tentang karya sastra telah dibungkam. “Sastra dihakimi dengan cara yang tidak adil,” katanya.
“Jadi memperjuangkan kebebasan ekspresi dalam kasus ini, tidak lepas dari memperjuangkan hak warga untuk menghadapi berbagai krisis, dan penistaan terhadap produksi pengetahuan bersama dan sikap kritis di dalam masyarakat,” tambah Feby.
Apa inti dan pesan moral cerpen Memburu Muhammad?
Memburu Muhammad yang dijadikan cover buku kedua dari trilogi Islamisme Magis adalah satu dari kumpulan 19 cerpen.
Secara garis besar, cerpen Memburu Muhammad bercerita tentang Abu Jahal yang datang pada abad modern ke Indonesia. Ia memburu semua orang bernama Muhammad. Namun, tidak ada satu pun yang benar-benar sepenuhnya meneladani sosok yang dicarinya itu, yaitu Nabi Muhammad SAW.
Feby berkata, dalam membuat cerpen ini, ia menggunakan metode sastra apa yang disebut sebagai “defamiliarisasi”. Artinya, berupaya untuk membuat sesuatu yang sudah sangat familiar menjadi sesuatu yang berbeda.
“Karena kalau kita disuguhi terus menerus oleh sesuatu yang sudah terlalu familiar, ya itu juga tidak memberikan efek gugah kepada pembaca,” katanya.
Oleh karena itu, Feby mengambil sudut pandang dari tokoh Abu Jahal—musuh besar Nabi Muhammad. Abu Jahal diposisikan sebagai orang yang “memusuhi tapi sebetulnya dia mengagumi” Nabi Muhammad.
“Dan kemudian dia frustrasi, kok tidak ada? Ini mana? Dia berusaha memburu sosok yang dia ingat di dalam kepalanya. Lalu kemudian dia bertanya, ‘ngapain kalian bernama Muhammad tapi kok tidak mirip, kok tidak seperti sosok Muhammad yang saya tahu’?,” katanya.
Saat orang meributkan arti kata “memburu” dalam buku ini, Feby melampirkan definisinya sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Arti memburu adalah berusaha keras supaya mendapat.
Dari cerita ini, para pembacanya diharapkan bisa memperoleh pesan moral lebih dalam.
“Jadi Memburu Muhammad di sini, berusaha secara sungguh-sungguh untuk mendapatkan, untuk meraih sifat-sifat yang sebetulnya ingin diteladani dari Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.
Feby yang dibesarkan dalam keluarga Muslim menegaskan, tak ada niat sama sekali “mengolok-olok” umat Islam melalui karya sastra ini. “Kalau saya mengolok-olok Muslim, kan saya mengolok-olok diri saya sendiri,” katanya.
“Kalaupun ada pembaca yang memaknai cerita ini sebagai kritik sosial, itu adalah sebuah autokritik,” katanya lagi.
Sementara itu, Prof. Nadirsyah Hosen yang menulis pengantar dari buku kumpulan cerpen ini membuat tulisan panjang.
Ia memahami judul Memburu Muhammad membuat sebagian orang terkejut. Kata dia terdapat kata “memburu” yang diletakkan di depan sehingga “menimbulkan kesan mengancam”.
“Namun, keterkejutan belum merupakan bukti penghinaan,” tulis pria yang akrab disapa Gus Nadir.
Dia menambahkan, jika judulnya dibaca bersama substansi kisahnya, konteksnya menjadi jelas: “Abu Jahal Memburu Nabi Muhammad”.
Gus Nadir bilang, mengubah tindakan tokoh menjadi tuduhan terhadap pengarang merupakan kekeliruan membaca yang mendasar.
Penulis dapat menghadirkan kebencian untuk memperlihatkan keburukannya. Seorang musuh dapat dimunculkan untuk menyingkap kebesaran orang yang dimusuhinya.
“Menghadirkan Abu Jahal dalam cerita tidak menjadikan penulis pengikut Abu Jahal,” katanya.
Lantas, di mana letak penghinaan terhadap Islam dan Nabi Muhammad dalam judul dan alur tersebut?
“Saya tidak menemukannya. Yang saya temukan justru gugatan terhadap jarak antara kemuliaan akhlak Nabi dan perilaku kita yang mengaku mencintainya. Di situlah saya merasa tertusuk,” tulisnya.
Dia keberatan terhadap upaya menjadikan persoalan judul ini sebagai tuduhan penghinaan terhadap Islam tanpa pembacaan dan penjelasan tekstual yang memadai. Tuduhan sebesar itu menuntut tanggung jawab yang besar pula, katanya.
Selain itu, ia juga melihat “ada kekeliruan lain yang perlu kita hindari: menyamakan kritik terhadap perilaku umat dengan penghinaan terhadap Nabi”.
“Ketika sebuah cerita membuat kita menyadari bahwa perilaku kita jauh dari keteladanan beliau, kemuliaan Nabi justru menjadi ukuran yang memperlihatkan kekurangan tersebut. Jangan sampai kekurangan kita berlindung di balik kesucian agama, sehingga setiap koreksi dianggap penistaan,” jelasnya.
Lalu, bagaimana kita keluar dari ketegangan ini?
“Barangkali kita bisa memulainya dengan menurunkan suara dan membuka buku. Tidak perlu ada yang dipermalukan karena sempat terkejut oleh judulnya.
Tidak perlu pula seseorang terus-menerus dicurigai setelah bersedia menjelaskan maksud tulisannya”.
“Saya berharap kita memberi kesempatan kepada sebuah cerita untuk dipahami sebelum menghukumnya melalui judulnya,” tulisnya.
‘Baca saja dulu sebelum menilai’
Inayah Wahid, putri keempat dari Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menjadi salah satu pengulas buku ini.
Dalam ulasan di buku karya Feby ini, ia mengatakan:
“Kejutan yang selalu muncul di tiap akhirnya, tidak hanya membuat kita lekat dan terpikat, tapi di banyak bagian ia jadi terasa hangat dan yang terpenting, kembali mengingatkan siapa sesungguhnya kita”.
Dalam wawancara kepada BBC News Indonesia, Inayah mengatakan, karya cerpen Memburu Muhammad membuat dirinya menjadi introspektif sebagai seorang Muslimah.
“Saya pribadi sebagai seorang muslimah membaca buku ini jadi sesuatu yang introspektif sebenarnya.
Bahwa betapa jauhnya kita semua, atau minimal saya lah, dari teladan Nabi Muhammad,” kata pegiat Gusdurian ini.
Dalam polemik yang terjadi, Inayah mengajukan saran sederhana: “Baca saja dulu sebelum memberi pernyataan”.
“Saya nggak yakin orang akan tetap menganggap itu penistaan kalau sudah baca bukunya. Karena memang jelas itu bukan penistaan.
Bahwa itu kemudian judulnya mengganggu kenyamanan kita? Ya mungkin. Jadi kalau saya sih cuma satu sih ininya (pesannya). Baca saja dulu,” katanya.
Menurutnya, polemik ini juga memberi dampak lain, yaitu rasa penasaran publik terhadap karya sastra Feby Indirani.
Berkali-kali diulas di ruang publik
Buku Memburu Muhammad sudah bertahun-tahun diulas melalui kajian akademik hingga siniar. Bahkan, salah satu cerpen dari buku ini Berebut Jenazah telah diadaptasi ke sebuah film pada 2025.
Pada 2022, buku Memburu Muhammad diulas dalam siniar MA’ARIF Institute—lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pembaruan pemikiran Islam, pendidikan, kebudayaan dan kemanusiaan.
Pembawa acara siniar ini, Abdul Rohim Ghazali mengatakan cerpen Memburu Muhammad sebagai bagian dari “dakwah”. Cerpen ini memuat kritik terhadap orang-orang bernama Muhammad, tapi kelakuannya bertolak belakang dengan Nabi Muhammad, katanya.
“Itu kritik sosial, kritik terhadap mereka yang tidak mengamalkan ajaran Nabi,” katanya.
Apa yang membuat polemik ini berkepanjangan?
Menurut Rohim, polemik berkepanjangan dari karya sastra ini, pertama disebabkan kegagalan negara menjamin kebebasan berekspresi warga sipil.(sumber: BBC)
Diterbitkan tanggal 30 September 2026 by admin












Discussion about this post