SAJIAN tidak lagi sekadar perkara makanan yang hadir di atas piring. Di tangan tiga perupa, ia menjelma menjadi medium untuk membaca kembali memori keluarga, akulturasi budaya, ruang sosial, hingga kegelisahan industri film lokal. Gagasan itu mengemuka dalam Artist Talk Pra-Biennale Kalimantan 2026 bertema Sajian: Makanan sebagai Bahasa Pertama, yang berlangsung di Gedung Wargasari UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan, Rabu (19/8/2026) malam.
Dhea Qistina, Rasyid Ridha, dan Ridha Rezeqi Rahman (Edo FSB) membawa sajian ke wilayah pengalaman yang berbeda. Dapur, gerobak pentol, layar sinema, popcorn, hingga ikan menjadi pintu masuk untuk membicarakan bagaimana rasa dan praktik konsumsi membentuk identitas sekaligus menyimpan ingatan.
Dalam percakapan yang dipandu moderator Nada Kamilah bersama kurator Hajriansyah, sajian dibaca bukan hanya sebagai sesuatu yang dikonsumsi, tetapi sebagai bahasa pertama yang terus diwariskan, mengalami akulturasi, menemukan bentuk baru, dan pada akhirnya menjadi bagian dari cara manusia memahami dirinya serta lingkungannya.
Lewat Media Sajian
Menarik yang muncul dalam percakapan malam itu adalah bagaimana sajian tak pernah lepas dari lapisan akulturasi, memori, dan harapan.
Lewat media sajian, ketiga perupa menghadirkan pengalaman yang berbeda tentang bagaimana makanan bekerja sebagai bahasa pertama. Sajian tidak hanya hadir sebagai objek yang dinikmati, tetapi menjadi medium untuk membicarakan memori, identitas, akulturasi, kebersamaan, hingga harapan.
Dalam konteks Borneo yang kaya sejarah, ekologi, dan transformasi, sajian menjadi identitas yang terus hidup, meski kerap bergeser oleh modernitas, pasar, maupun tatapan yang mengonsumsi.
Hajriansyah, kurator Pra-Biennale sekaligus seniman dan Ketua Dewan Kesenian Banjarmasin, membuka percakapan dengan posisi yang khas: memandang seni rupa Kalimantan bukan sebagai catatan kaki, melainkan sebagai suara yang berdiri sendiri.
Melalui pengalaman dalam arsip, kurasi, dan jejaring seni, ia menjadi penghubung antara praktik ketiga perupa dengan gagasan besar Pra-Biennale. Sementara Nada Kamilah, sebagai manajer program sekaligus moderator, menjaga ritme diskusi agar tetap cair dan mendalam, membawa percakapan dari karya menuju pengalaman hidup sehari-hari para penonton.
Dhea Qistina: Dapur, Perjalanan, dan Memori Rasa
Dhea Qistina mengajak kita masuk ke dapur. Baginya, dapur bukan sekadar ruang domestik, melainkan sebuah infrastruktur kultural. Di sanalah pengetahuan diwariskan melalui kerja, afeksi, repetisi keseharian, dan resep yang terus diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bagi Dhea, rasa bukan sekadar kudapan yang hadir untuk dinikmati. Ia adalah penghubung yang terus bekerja, bahkan ketika jarak memisahkan seseorang dari rumah dan keluarganya. Rasa menjadi sesuatu yang sulit dihilangkan karena di dalamnya tersimpan pengalaman, percakapan, dan ingatan tentang orang-orang yang pernah menghadirkannya.
Karena itu, resep keluarga menjadi bagian penting dalam praktik Dhea. Ia mengajak pengunjung menuliskan resep keluarga masing-masing dan menempelkannya pada papan yang tersedia di dalam instalasi. Resep-resep tersebut tidak lagi sekadar menjadi catatan tentang cara memasak, tetapi berubah menjadi fragmen memori yang dikumpulkan bersama di dalam ruang pamer.
Apa yang dilakukan Dhea berangkat dari pengalaman personal. Ketika berada di Eropa, khususnya di Italia, kerinduan terhadap rumah membuatnya meminta sang ibu mengirimkan resep lempeng. Resep menjadi semacam jembatan yang menghubungkan jarak: bukan hanya menghadirkan kembali rasa, tetapi juga menghadirkan sosok ibu dan rumah melalui sesuatu yang sederhana.
Pengalaman serupa juga terjadi ketika Dhea menimba ilmu di Malang. Di tengah jarak dari kampung halaman, ia kembali meminta ibunya menghadirkan rasa yang dekat dengan dirinya—ketupat Kandangan.
Dari pengalaman tersebut, makanan menjadi lebih dari sekadar konsumsi. Ia menjadi cara untuk menjaga hubungan dengan rumah.
Instalasi Dhea pada awalnya dirancang dengan kehadiran layar yang lebih besar. Namun pada akhirnya, yang hadir di ruang pamer adalah sebuah televisi berukuran lebih kecil yang menampilkan cerita perjalanan Dhea di Eropa, sekaligus membawa percakapan tentang memori keluarga yang terus terhubung melalui rasa.
Keterbatasan tersebut tidak serta-merta mengurangi kemampuan karya untuk bertutur. Justru melalui ruang, sajian, instalasi, resep, dan dialog yang dibangun bersama pengunjung, memori rasa tetap hadir dan menemukan bentuknya.
Menurut Hajriansyah, Dhea tetap mampu bertutur melalui ruang dan instalasinya. Layar yang lebih kecil bukan menjadi penghalang bagi narasi yang ingin disampaikan. Cerita perjalanan, memori keluarga, dan pengalaman rasa tetap bekerja melalui hubungan antara benda, ruang, percakapan, dan pengunjung.
Di titik ini, pengunjung tidak hanya menjadi penonton. Mereka ikut menyumbangkan ingatan melalui resep keluarga yang mereka tuliskan. Setiap resep yang ditempel menjadi semacam potongan cerita: tentang rumah, orang tua, kebiasaan, dan rasa yang pernah membentuk seseorang.
Dengan demikian, ruang instalasi Dhea menjadi ruang pertemuan antara pengalaman personal dan memori kolektif. Pengalaman berada jauh dari rumah bertemu dengan pengalaman para pengunjung yang juga memiliki rasa dan resep yang tidak dapat mereka lepaskan.
Bagi Dhea, rasa selalu menjadi penghubung. Ia bisa dibawa menyeberangi jarak, melewati kota dan bahkan negara, tetapi tetap membawa seseorang kembali kepada rumah.
Identitas yang tak bisa ditinggalkan itu tumbuh dari sesuatu yang paling sederhana: resep yang diwariskan, tangan seorang ibu, percakapan di dapur, dan rasa yang terus kembali dalam ingatan.
Rasyid Ridha: Pentol dan Ruang Sosial
Rasyid Ridha membawa percakapan ke pinggir jalan, ke gerobak pentol. Di sekitar satu panci yang sama, perbedaan seolah kehilangan jarak. Gerobak pentol menjadi ruang sosial tempat tubuh, percakapan, dan kepercayaan bertemu melalui gestur yang sederhana.
Yang menarik, pentol sendiri merupakan hasil akulturasi. Namun dalam perjalanan waktu, ia tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang asing. Pentol telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Banjar melalui cara penyajian dan cara menikmatinya.
Rasyid melihat bahwa akulturasi pada akhirnya dapat berubah menjadi kebiasaan, kemudian menciptakan cara tersendiri di tengah masyarakat.
“Pentol ala Banjar ini bisa seperti tahu Sumedang.”
Seperti tahu yang datang dari luar tetapi kemudian memiliki cara penyajian dan cara menikmati yang khas di Sumedang, pentol Banjar pun sedang menempuh perjalanan serupa: menjadi milik sendiri, bukan lagi sekadar sesuatu yang dipinjam.
Bagi Rasyid, praktik menikmati pentol sambil berdiri dan keterbukaan gerobak terhadap berbagai lapisan masyarakat memperlihatkan makanan sebagai bahasa pertama yang membentuk identitas kolektif.
Di sekeliling gerobak itu, orang-orang bertemu tanpa banyak sekat. Sajian menjadi jembatan yang menyatukan, mengikat, sekaligus menolak isolasi.
Ridha Rezeqi Rahman (Edo FSB): Sajian, Tatapan, dan Harapan
Ridha Rezeqi Rahman (Edo FSB) menggeser makna sajian lebih jauh: dari hidangan menuju pengalaman visual. Lewat media sajian, ia mengajak kita melihat bagaimana gambar, film, penonton, dan industri budaya saling berkelindan dalam praktik konsumsi.
Di ruang sinemanya, pengunjung berhadapan dengan layar dan proyeksi video trailer film lokal dari bawah. Penonton yang datang untuk melihat justru ditempatkan sebagai bagian dari tontonan. Tubuh dan perhatian mereka menjadi sesuatu yang turut “disajikan” sekaligus dikonsumsi oleh ruang.
Dalam karya tersebut, Edo memperluas gagasan tentang konsumsi: kita datang untuk mengonsumsi gambar, tetapi pada saat yang sama kita juga dikonsumsi oleh tatapan. Sajian kemudian tidak hanya berbicara tentang makanan, melainkan tentang bagaimana pengalaman visual dan identitas kita dapat diproduksi, disajikan, dan dikonsumsi.
Di ruang sinema itu pula ditampilkan video klip Penembak, karya yang digarap Edo bersama Munir Sadikin. Kehadiran karya tersebut memperluas pembicaraan Edo tentang film dan bagaimana karya lokal berusaha menemukan ruangnya sendiri di tengah industri yang tidak selalu mudah.
Bagi Edo, industri film lokal berada dalam situasi yang penuh perjuangan. Modal produksi yang dikeluarkan tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah penonton yang datang. Ada jarak antara biaya untuk membuat sebuah karya dengan kemampuan karya tersebut menjangkau dan menarik penonton.
Di titik inilah film tidak hanya menjadi persoalan artistik, tetapi juga berhadapan dengan persoalan ekosistem, distribusi, apresiasi, dan keberlanjutan.
Karena itu, simbol ikan di dalam kotak popcorn yang dihadirkan Edo membawa makna lain: sebuah harapan agar suatu hari sajian dari para sineas lokal dapat memperoleh tempat yang lebih kuat dan mampu bersanding dengan sajian populer yang selama ini mendominasi layar bioskop.
Harapan tersebut bukan sekadar keinginan untuk menghasilkan film, tetapi juga agar karya-karya lokal memiliki ekosistem yang memungkinkan mereka hidup, ditonton, dan menemukan penontonnya.
Bagi Edo, rasa juga selalu menjadi pengingat. Seperti Dhea yang tidak bisa lepas dari ketupat Kandangan atau pedasnya pempek yang menjadi identitas keluarga, pengalaman terhadap makanan tertentu dapat terus membawa seseorang kembali pada tempat dan orang-orang yang membentuknya.
Ia mencontohkannya melalui ikan seluang dan telang asam manis yang kerap diminta teman-temannya untuk dikirimkan. Permintaan sederhana itu menunjukkan bagaimana makanan dapat membawa ingatan tentang tempat, kedekatan, dan identitas, bahkan ketika seseorang sudah berada jauh dari tanah asalnya.
Dengan demikian, melalui media sajian, Edo mempertemukan dua hal yang tampak berbeda: makanan dan film. Keduanya sama-sama merupakan bentuk sajian yang membutuhkan ruang untuk hadir, penonton untuk menerima, dan ingatan untuk membuatnya terus hidup.
Sajian dalam praktik Edo akhirnya menjadi pertanyaan: apa yang kita konsumsi, siapa yang kita beri ruang untuk dilihat, dan bagaimana sebuah karya dapat terus hidup ketika jumlah penonton belum tentu sebanding dengan modal yang telah dikeluarkan?
Di antara layar, penonton, popcorn, ikan, dan film lokal, sajian menjadi ruang untuk membicarakan bukan hanya apa yang kita nikmati, tetapi juga apa yang kita harapkan untuk tetap hidup.
Sajian, Akulturasi, Memori, dan Harapan
Dari ketiga praktik tersebut, muncul satu benang merah: sajian selalu memiliki kemampuan untuk mengingatkan kita pada sesuatu yang lebih besar dari makanan itu sendiri.
Dapur menjadi ruang pewarisan pengetahuan. Gerobak pentol menjadi ruang perjumpaan. Sementara layar dan proyeksi menjadi ruang untuk mempertanyakan kembali bagaimana kita melihat dan dikonsumsi oleh tatapan.
Ketiganya memperlihatkan bahwa makanan tidak pernah berdiri sendiri. Ia membawa sejarah, mengalami akulturasi, menjadi kebiasaan, menyimpan memori, sekaligus memelihara harapan.
Pentol yang berasal dari proses akulturasi dapat menemukan bentuknya sendiri di tengah masyarakat Banjar. Resep keluarga dapat terus hidup meskipun generasi berikutnya berpindah jauh dari rumah. Sementara ikan seluang, telang asam manis, ketupat Kandangan, hingga pempek dapat menjadi penanda yang membawa seseorang kembali kepada ingatan tentang keluarga, tempat, dan asal-usul.
Pada akhirnya, hidangan bukan hanya identitas. Ia adalah memori. Dan dari memori itulah gagasan sering kali lahir.
Inilah narasi yang coba dihadirkan Pra-Biennale Kalimantan 2026: bahwa di balik setiap sajian, tersimpan bahasa pertama yang terus hidup, mengikat, dan tak bisa ditinggalkan.
Bahasa yang diwariskan melalui tangan, rasa, ruang, percakapan, dan tatapan.
Bahasa yang tumbuh dari tanah Borneo, mengalami akulturasi, berubah menjadi kebiasaan, lalu menemukan bentuknya sendiri.
Dan malam itu, lewat media sajian, bahasa tersebut kembali dihidangkan—bukan hanya untuk disantap, tetapi untuk diingat, dipertanyakan, dan dibicarakan kembali.***
Diterbitkan tanggal 20 Agustus 2026 by admin












Discussion about this post