Megapolis
Iklan
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Global
  • Ekbis
  • Kalimantan
    • Kalimantan Selatan
      • Pemprov Kalsel
      • Banjarmasin
      • Banjarbaru
      • Barito Kuala
      • Banjar
      • Balangan
      • Tanah Laut
      • Tanah Bumbu
      • Tapin
      • Tabalong
      • Kotabaru
      • DPRD Kotabaru
      • Hulu Sungai Utara
      • Hulu Sungai Tengah
      • Hulu Sungai Selatan
    • Kalimantan Tengah
      • Barito Selatan
      • DPRD Kalteng
      • DPRD Kapuas
      • DPRD Barito Selatan
      • Kapuas
      • Palangkaraya
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kalimantan Barat
  • Hukum & Peristiwa
  • Politik
  • Pendidikan
  • Sport
  • Ragam
    • Kesehatan
    • Pariwisata
    • Opini
    • Otomotif
  • Advertorial
    • PLN UIP3B Kalimantan
    • Yamaha
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Global
  • Ekbis
  • Kalimantan
    • Kalimantan Selatan
      • Pemprov Kalsel
      • Banjarmasin
      • Banjarbaru
      • Barito Kuala
      • Banjar
      • Balangan
      • Tanah Laut
      • Tanah Bumbu
      • Tapin
      • Tabalong
      • Kotabaru
      • DPRD Kotabaru
      • Hulu Sungai Utara
      • Hulu Sungai Tengah
      • Hulu Sungai Selatan
    • Kalimantan Tengah
      • Barito Selatan
      • DPRD Kalteng
      • DPRD Kapuas
      • DPRD Barito Selatan
      • Kapuas
      • Palangkaraya
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kalimantan Barat
  • Hukum & Peristiwa
  • Politik
  • Pendidikan
  • Sport
  • Ragam
    • Kesehatan
    • Pariwisata
    • Opini
    • Otomotif
  • Advertorial
    • PLN UIP3B Kalimantan
    • Yamaha
No Result
View All Result
Megapolis
No Result
View All Result
Home Kalimantan Kalimantan Selatan Banjarmasin

Makanan, Antara yang Musiman dan Bertahan

admin by admin
Senin, 17 Agustus 2026 - 08:43
di Banjarmasin, Ragam
0
Makanan, Antara yang Musiman dan Bertahan
38
SHARES
640
VIEWS

MEGAPOLIS.ID, BANJARMASIN – Sabtu (15/8) malam, di Gedung Warga Sari, Taman Budaya Kalimantan Selatan, sebuah diskusi berlangsung dalam rangkaian Pra Biennale Kalimantan. Acara yang disebut Arttalk ini mempertemukan perupa untuk membicarakan karya-karya mereka secara terbuka. Bukan sekadar perayaan pameran, melainkan percakapan jujur yang membedah sajian seni seperti orang membicarakan makanan: mana yang hanya hadir di musim tertentu, dan mana yang tetap ada di meja lama setelah musim berganti.

Ekky Abdan, sang kurator, membuka dengan analogi yang dekat. “Sajian di sini bukan makanan, tapi seni rupa. Kami menganalogikan seni rupa adalah makanan.” Ia menunjuk fenomena yang akrab di lidah: kue cubit yang tiba-tiba meledak di setiap pojok jalan, es kepal Milo yang viral lalu menghilang, berbanding dengan sajian yang tetap bertahan di warung atau meja rumah. Dari situlah tema pameran ini lahir. Tim kurator tidak ingin menjauh dari tema. Mereka justru menancapkan kaki di situ—mempertanyakan mengapa seni rupa sering mengikuti gelombang yang sama: datang dengan gempita, lalu ditinggalkan begitu tren bergeser.

Dalam kerangka itu, Moses hadir sebagai seniman yang memilih untuk kembali. “Saya senang terlibat kembali setelah terlibat dalam seni rupa tahun 82,” katanya. Ia mengucapkan terima kasih khusus kepada Bung Hajri. Karya yang ia hadirkan, berjudul Wrong, adalah bagian dari seri yang ia harapkan berkembang tentang Meratus. Moses menulis sedikit diksi di sekitar tema yang sering muncul: orang-orang yang tidak ingin disalahkan.

Secara garis besar, Wrong tidak banyak bermain ornamen. Lebih kepada bertanya. Karya ini menjadi refleksi—melihat “wrong,” salah, apa yang salah. Ia hadir sebagai dialog di dalam dirinya sendiri. “Buat saya, karya semakin sederhana. Saya tidak ingin terlalu bermain ornamen. Saya lebih mengutamakan pesan,” jelas Moses.

Awalnya ia bermain di ranah realis, namun kini ia memilih untuk menahan diri. Kesederhanaan bukan kemiskinan bentuk, melainkan ketegasan pesan. Dalam konteks Meratus dan pertanyaan tentang “salah,” karya itu terasa seperti cermin yang diam-diam menatap penonton: siapa yang tidak ingin disalahkan, dan apa yang sebenarnya sedang kita lindungi dari tuduhan itu?

Sementara itu, Zahra , mahasiswa semester 5 Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP ULM, menempuh jalur yang berbeda. Ini adalah karya instalasinya yang pertama, dan pameran ketiganya. Awalnya ia ingin mengangkat beras, lalu mencoba melukis di atas kardus di rumah. Ia melempar pertanyaan kepada Mas Ekky: bagaimana caranya melukis di kardus? Mas Ekky menjawab dengan usulan yang mengubah arah: kenapa tidak dibuat instalasi?

Dari situ lahir You and Mi. “Soal makanan, kenapa mie instan? Karena ini adalah hal yang dekat dengan kita dan ada sisi baik dan buruk dalam mie instan,” kata Zahra. Judul itu dipilih untuk menggambarkan hubungan kita dengan mie. Ia ingin membebaskan bagaimana hubungan itu digambarkan—bukan sekadar konsumsi, melainkan sesuatu yang lebih kompleks. Di belakang instalasi terdapat papan informasi tentang mie instan yang menjadi bantuan. Bagi Zahra, mie instan relevan dan tak lekang oleh waktu. “Saya tidak ekspek karya jadi seperti ini, dan ini adalah sebuah kebanggaan bisa menyelesaikan instalasi ini,” ucapnya.

Diskusi kemudian menukik lebih dalam ke politik makanan yang tersembunyi di balik kemasan Indomie. Ekky Abdan, yang pernah magang di pabrik Indomie, mengungkapkan skala produksinya yang masif: lebih dari tujuh puluh bungkus diproduksi setiap menit—kurang dari satu detik untuk satu bungkus—dan semuanya pasti laku. Namun dalam pertemuan kuratorial dengan Zahra, muncul satu titik keanehan yang satir. Bahan baku Indomie adalah tepung gandum. Semua orang tahu itu. Tapi gandum tidak ditanam di Indonesia. Tidak ada tanaman gandum yang bisa tumbuh di sini. Meski begitu, konsumsi gandum Indonesia termasuk nomor dua tertinggi di dunia. “Kenapa kita bisa makan makanan orang sedangkan kita tidak bisa memproduksi makanan kita sendiri?” tanya Ekky. Produksi gandum terbesar dunia berada di Ukraina, artinya hampir seluruhnya diimpor.

Zahra menanggapi dengan tenang. Ia menjelaskan bahwa di samping instalasinya terdapat gambar ladang gadung yang digambarkan secara sederhana—mungkin tidak terlalu mencolok, tapi ada. Diskusi berlanjut ke momen bencana. Indomie hampir selalu menjadi bantuan pertama yang tiba di lokasi pengungsian, baik dari pemerintah maupun pihak lain, karena sifatnya yang instan, tahan lama, dan tahan air. Tapi pertanyaan tetap menggantung: kenapa harus selalu Indomie? Bahkan masyarakat korban bencana pernah protes—kenapa terus Indomie, tidak takut sakit perut?

Ekky mengaitkannya dengan Andy Warhol dan Thomas Hooker, ketika makanan instan diproduksi massal dan menjadi ikon budaya pop lewat sablon. Produksi berulang, konsumsi berulang, dari sana ke sini, dari sini ke sana. Karya Zahra, dalam konteks ini, bukan sekadar instalasi tentang mie, melainkan cermin yang menampilkan ketergantungan, absennya kedaulatan pangan, dan ironi bantuan yang selalu sama.

Ben dari Dewan Kesenian Banjarbaru kemudian membaca instalasi Zahra secara lebih tajam. Menurutnya, kehidupan di depan mata seolah terjajah: produk gandum yang tidak pernah ditanam di sini tiba-tiba menjadi bagian hidup, dianggap tak terpisahkan, dan orang tidak bisa keluar darinya. Susunan punggung instalasi menunjukkan ketergantungan yang makin kuat. Setiap bencana, Indomie selalu datang—bukan semata karena enak, melainkan karena paling mudah, cepat, bisa dibawa, tidak memerlukan persiapan rumit. Alasan marketing itu sendiri membuat kita menjadi bagian dari penjajahan. Menara-menara yang dibangun Zahra, katanya, semakin menegaskan jarak: secara konsep pun kita terjajah. “Mudah-mudahan keluar dari sini, janganlah bisa membebaskan dirinya dari penjajahan tersebut.”

Ia menyinggung sejarah padi di Nusantara yang baru masuk belakangan, sementara jenis padi hitam dan putih yang ada justru tidak terlalu dikonsumsi. Dalam kooratorium, seakan-akan Zahra menemukan konsep, padahal mungkin belum sepenuhnya memahami “karnus” Indomie itu sendiri. Menara-menara itu, dalam bacaannya, menunjukkan orang yang semakin terperangkap, seperti robot yang kehilangan kebebasan.

Pertanyaan dari audiens muncul. Ada yang merasa “tersesat” saat memasuki ruang pameran, seolah sedang berada di ekspedisi padang mati. Seorang peserta menjelaskan bahwa perasaan itu justru tanda hubungan sedang terjalin dengan karya. Apresiasi muncul dari proses komunikasi dengan karya itu sendiri. Ia memuji kerja kurator—dari seleksi hingga penataan—yang berhasil menghadirkan pengaruh pada subkultur seni rupa. Budaya, kata seorang pembicara, adalah produk cipta-rasa-karsa. Kuratorlah yang mengajak dan memberi persepsi terhadap setiap karya. Keberhasilan lain terlihat dari cara acara ini dikemas hingga terasa spesial, mampu menghadirkan senior dan membuka ruang belajar bersama.

Latar belakang setiap karya memang berbeda: ada yang bernuansa politik, ada yang berbicara sakit, ada yang masuk ke subkultur. Realitas hari ini, kata seorang peserta, menunjukkan Indomie sering menjadi andalan keluarga miskin. Ia mengingat cerita pribadi: dulu di era 1970-an, nenek membeli dua bungkus mie dan dua telur untuk enam anak plus dua orang tua. Lebih murah daripada nasi, lebih cepat kenyang. “Siapa yang memakan Indomie, atau kita yang dimakan Indomie?”

Zahra sendiri menjelaskan proses teknis instalasinya. Awalnya ia hanya memesan sekitar dua puluh kardus, lalu kaget diberi ruang sebesar itu dan harus mencari tambahan.

Susunan dibuat dengan menara terbesar di tengah, Mie Goreng diletakkan paling atas karena paling laris dan diminati. Penyusunan acak dibantu teman-teman dari komunitas badminton. Baginya, menara itu adalah tempat aman atau tempat pemujaan. “Ini Sekte Indomie. Kita menguji Indomie karena sekarang mereka menganggap bahwa mie itu sebagai hal yang sangat sakral dan lebih dari sekadar makanan.”

Di antara suara-suara itu, Badri hadir dengan narasi yang lebih personal dan mengakar. Seniman sekaligus pemilik Badri Galeri ini membuka dengan apresiasi terhadap pameran yang menurutnya “sangat dinamis dan beragam dari sepanjang pameran-pameran.” Ia memperkenalkan diri secara jujur: seniman yang juga mengelola ruang di Banjarmasin maupun Palangka Raya dan kini memiliki galeri di daerah  kompleks DPR, lengkap dengan ruang baru yang menampilkan balon udara.

Bagi Badri, kerja seni sudah digemari sejak kecil. Ia merasa berbeda dari rekan-rekan seangkatannya. “Saya itu lahir di pinggiran sungai Barito, di mana kampung saya sampai saat ini masih terkecil.” Dari situ lahir cara ia memandang berkarya: menciptakan karya-karya yang hadir di sana, instalasi yang berulang kali ia lakukan di galerinya sendiri. Kali ini ia menghadirkan tentang “om, om, mananang bertani di ujung sungai”—pemandangan yang ia lihat setiap hari.

Dulu, pergi ke kota terasa sebagai hal penting untuk menghasilkan sesuatu. Kini ia merasakan sebaliknya. “Sekarang ini, saya merasa kembali ke desa itu adalah hal yang benar-benar mengasyikkan.” Karya-karyanya hari ini berangkat dari memori yang sangat konkret. Satu tentang sungai, satu lagi tepat di sebelah sungai. Ember menjadi simbol: dulu ibunya sering mendapat ikan sangat banyak, disusun dalam ember. Saat membersihkan ikan, sisa-sisa dilempar ke sungai, dan ikan-ikan datang menyambut—begitu melimpah hingga terasa seperti pesta pernikahan.

Pengalaman itu, kata Badri, adalah sesuatu yang mungkin tidak bisa diulang untuk anak-anak sekarang. Kebanggaan baginya lahir dari masa di mana ia sangat mencintai alam, sesekali memakai sungai, dan melihat kehidupan yang kaya imajinasi. “Karya yang saya hadirkan itu bagaimana nadi sungai itu menghidupi saya sampai sekarang sampai saya berdiri di sini.” Ayahnya bekerja di sungai, dan hingga hari ini, setiap pulang kampung, Badri masih membantu mencari ikan.

Ia mengingat masa kecil di hutan Barito: anak-anak dalam yang serius memandang, teman-teman, imajinasi seperti dongeng—burung besar, kancil, nampilanggung yang kini sudah sulit ditemukan. “Kerana mungkin ada sawit, kerana mungkin ada jalan yang dibabat, ada atau mungkin hutan yang dipakar.” Karya-karyanya hari ini adalah cara membaca dirinya sendiri, menjadikan pengalaman sebagai memori yang memberi energi. Balon udara yang ia hadirkan, misalnya, bagi orang kota mungkin biasa saja. Tapi bagi anak desa yang dulu tanpa listrik dan jalan, balon adalah kemewahan.

“Karya yang saya takdirkan hari ini itu adalah karya yang membaca saya waktu dulu, mungkin 20 tahun dulu, mungkin lima belas tahun yang lalu,” tutupnya. “Dan hari ini bagi saya, ulang tahun itu adalah hal yang paling menyenangkan.”

Arttalk di Gedung Warga Sari malam itu bukan sekadar perayaan karya dalam rangkaian Pra Biennale Kalimantan. Ia menjadi ruang di mana kurator dan seniman saling menguji: apakah seni rupa yang kita sajikan hari ini hanya “musiman”—mengikuti selera pasar, viralitas, atau momen tertentu—ataukah ia mampu bertahan seperti makanan yang tetap dicari lama setelah tren berlalu.

Moses memilih kesederhanaan agar pesan tidak tenggelam dalam ornamen. Zahra, melalui You and Mi dan menara-menara kardusnya, membuka lapisan politik pangan, ketergantungan, hingga ironi “sekte” Indomie yang dianggap sakral. Badri membawa sungai, ember, ikan, dan balon sebagai saksi memori yang perlahan menghilang.

Tanggapan Ben dari Dewan Kesenian Banjarbaru memperluasnya menjadi soal penjajahan rasa, sementara diskusi audiens lainnya menyinggung subkultur, edukasi apresiasi, dan pertanyaan sederhana namun tajam: siapa yang memakan, dan siapa yang dimakan.

Dalam analogi yang mereka bangun, seni rupa memang seperti makanan. Ada yang datang di musim tertentu, menggoda lidah, lalu menghilang.

Ada pula yang tetap ada di meja, meski tak selalu ramai dibicarakan. Arttalk ini mengajak kita menimbang ulang: sajian mana yang kita pilih untuk disajikan, dan sajian mana yang kita harapkan tetap bertahan—baik yang berupa pertanyaan tentang “wrong,” hubungan kita dengan mie instan yang diimpor dan diglorifikasi, maupun nadi sungai Barito yang masih menghidupi.(Rizky)

Diterbitkan tanggal 17 Agustus 2026 by admin

Berita Sebelumnya

Pemko Banjarmasin Gelar Salat Hajat dan Hidupkan Semangat Perjuangan Lewat Film Timur

Berita Berikutnya

Wacana Pembangunan Monumen 5 Abad Kota Banjarmasin Terus Dimatangkan

admin

admin

Berita Berikutnya
Wacana Pembangunan Monumen 5 Abad Kota Banjarmasin Terus Dimatangkan

Wacana Pembangunan Monumen 5 Abad Kota Banjarmasin Terus Dimatangkan

Discussion about this post

Widget weather
  • Trending
  • Komentar
  • Terbaru
Warga Banjarmasin Laporkan Dugaan Penipuan Janji Pernikahan, Mengaku Dirugikan Rp1,6 Miliar

Warga Banjarmasin Laporkan Dugaan Penipuan Janji Pernikahan, Mengaku Dirugikan Rp1,6 Miliar

22 Desember 2025
Kadisdik Serahkan 15 Izin Operasional PAUD Negeri

Kadisdik Serahkan 15 Izin Operasional PAUD Negeri

16 April 2025
Mulai Hari Ini Tarif Parkir di Kota Banjarmasin Turun

Mulai Hari Ini Tarif Parkir di Kota Banjarmasin Turun

30 Mei 2025
Jelang Penetapan Aditya di Pilkada Banjarbaru, Fitnah Terarah untuk Vivi Zubedi!

Jelang Penetapan Aditya di Pilkada Banjarbaru, Fitnah Terarah untuk Vivi Zubedi!

20 September 2024
Paul Pogba, Mantan Pemain Termahal di Dunia yang Sedang Merana

Paul Pogba, Mantan Pemain Termahal di Dunia yang Sedang Merana

0
Menagih Janji Presiden FIFA, Jadikan Piala AFF sebagai Agenda Resmi FIFA!

Menagih Janji Presiden FIFA, Jadikan Piala AFF sebagai Agenda Resmi FIFA!

0
Jelang Hadapi Vietnam di Kualifikasi Piala Dunia 2026, Timnas Indonesia Gelar TC

Jelang Hadapi Vietnam di Kualifikasi Piala Dunia 2026, Timnas Indonesia Gelar TC

0
Tamu dari Malaysia Takjub dengan Keindahan Destinasi Wisata di Kotabaru

Tamu dari Malaysia Takjub dengan Keindahan Destinasi Wisata di Kotabaru

0
Antisipasi Karhutla, Kemenhut Deteksi 73 Titik Panas di Kalsel

Antisipasi Karhutla, Kemenhut Deteksi 73 Titik Panas di Kalsel

17 Agustus 2026
Wacana Pembangunan Monumen 5 Abad Kota Banjarmasin Terus Dimatangkan

Wacana Pembangunan Monumen 5 Abad Kota Banjarmasin Terus Dimatangkan

17 Agustus 2026
Makanan, Antara yang Musiman dan Bertahan

Makanan, Antara yang Musiman dan Bertahan

17 Agustus 2026
Pemko Banjarmasin Gelar Salat Hajat dan Hidupkan Semangat Perjuangan Lewat Film Timur

Pemko Banjarmasin Gelar Salat Hajat dan Hidupkan Semangat Perjuangan Lewat Film Timur

16 Agustus 2026

Berita Baru

Antisipasi Karhutla, Kemenhut Deteksi 73 Titik Panas di Kalsel

Antisipasi Karhutla, Kemenhut Deteksi 73 Titik Panas di Kalsel

17 Agustus 2026
Wacana Pembangunan Monumen 5 Abad Kota Banjarmasin Terus Dimatangkan

Wacana Pembangunan Monumen 5 Abad Kota Banjarmasin Terus Dimatangkan

17 Agustus 2026
Makanan, Antara yang Musiman dan Bertahan

Makanan, Antara yang Musiman dan Bertahan

17 Agustus 2026
Pemko Banjarmasin Gelar Salat Hajat dan Hidupkan Semangat Perjuangan Lewat Film Timur

Pemko Banjarmasin Gelar Salat Hajat dan Hidupkan Semangat Perjuangan Lewat Film Timur

16 Agustus 2026
Megapolis

© 2022 Megapolis - Banjarmasin Kalimantan Selatan.

  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Wartawan
  • Tentang Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Global
  • Ekbis
  • Kalimantan
    • Kalimantan Selatan
      • Pemprov Kalsel
      • Banjarmasin
      • Banjarbaru
      • Barito Kuala
      • Banjar
      • Balangan
      • Tanah Laut
      • Tanah Bumbu
      • Tapin
      • Tabalong
      • Kotabaru
      • DPRD Kotabaru
      • Hulu Sungai Utara
      • Hulu Sungai Tengah
      • Hulu Sungai Selatan
    • Kalimantan Tengah
      • Barito Selatan
      • DPRD Kalteng
      • DPRD Kapuas
      • DPRD Barito Selatan
      • Kapuas
      • Palangkaraya
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kalimantan Barat
  • Hukum & Peristiwa
  • Politik
  • Pendidikan
  • Sport
  • Ragam
    • Kesehatan
    • Pariwisata
    • Opini
    • Otomotif
  • Advertorial
    • PLN UIP3B Kalimantan
    • Yamaha

© 2022 Megapolis - Banjarmasin Kalimantan Selatan.