MEGAPOLIS.ID, BANJARMASIN — Dewan Kesenian Kota Banjarmasin menyampaikan pernyataan sikap atas hilangnya taman gerbang kota di perempatan Jalan Pangeran Antasari. Pernyataan Nomor 045/DK-Bjm/VII/2026 itu dilayangkan Senin, 29 Juli 2026, menyoal penataan Taman Kota Bamara.
Monumen yang dibongkar itu dikenal sebagai Monumen Kayuh Baimbai atau Gerbang Selamat Datang. Lokasinya tepat di perempatan Jalan Pangeran Antasari, Kecamatan Banjarmasin Tengah, yang selama ini menjadi salah satu penanda masuk kawasan pusat kota.
Sejarah Singkat Monumen
Monumen ini dibangun pada 1985 atas prakarsa Walikota Madya Banjarmasin saat itu, Kolonel M. Effendi Ritonga. Perancang sekaligus pelaksana pembangunannya adalah Maestro Misbach Tamrin, seniman rupa senior asal Amuntai yang juga alumni Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta.
Struktur monumen terdiri dari dua pilar utama:
Pilar selatan berbentuk Rumah Banjar setinggi sekitar 14 meter lengkap dengan jamang khas. Pilar utara dihiasi relief perahu dan tiga alu besar.
Di bagian belakang terdapat relief memanjang yang menggambarkan kehidupan sosial-budaya masyarakat Banjar.
Bagi masyarakat seni dan warga Banjarmasin, monumen ini bukan sekadar ornamen. Ia merupakan perwujudan visual falsafah Kayuh Baimbai (mengayuh bersama) yang menjadi semboyan kota sekaligus simbol gotong-royong masyarakat Banua.
Dalam pernyataan sikapnya, Dewan Kesenian mengapresiasi semangat Pemerintah Kota Banjarmasin di bawah Walikota H. Muhammad Yamin HR yang ingin mempercantik kota melalui Sayembara Desain Taman Kota Bamara (Mei–Juni 2025). Namun mereka menyayangkan langkah pembongkaran monumen tersebut.
“Jika monumen itu sempat melusuh oleh waktu, ia sejatinya merindukan sentuhan perawatan dan konservasi yang bermatabat, bukan kepunahan di bawah dentuman palu besi,” tulis Dewan Kesenian.

Mereka juga menegaskan bahwa menghancurkan karya Maestro Misbach Tamrin sama saja dengan melipat satu lembar penting dalam buku sejarah estetika Kota Seribu Sungai.
Empat Harapan
Dewan Kesenian Kota Banjarmasin menyampaikan empat harapan:
- Pemerintah Kota diminta menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada warga atas hilangnya simbol kultural, serta secara khusus kepada Maestro Misbach Tamrin.
- Menyesalkan absennya dialog dengan seniman, budayawan, dan pakar estetika kota dalam proses penataan.
- Mendesak Dinas Lingkungan Hidup dan jajaran Pemko menghadirkan kembali penanda atau bentuk penghormatan alternatif atas karya maestro tersebut, dengan membuka ruang dialog bersama Dewan Kesenian dan komunitas perupa sejak awal perencanaan.
- Mengharapkan komitmen tertulis atau regulasi agar pembangunan Taman Bamara selanjutnya bertumpu pada konsep humanis, di mana modernitas dan perlindungan aset seni-budaya berjalan beriringan.
Pernyataan sikap ini ditandatangani Ketua Dewan Kesenian Kota Banjarmasin Hajriansyah dan Wakil Ketua Sumasno Hadi. Mereka menekankan bahwa pernyataan tersebut bukan benturan, melainkan pengingat agar pembangunan fisik tetap berpijak pada akar kebudayaan Kota Seribu Sungai.(Rizky)
Diterbitkan tanggal 31 Juli 2026 by admin












Discussion about this post