MEGAPOLIS.ID, JAKARTA – Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menegaskan pembentukan karakter calon Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) tidak harus dilakukan latihan fisik berlebihan menyusul meninggalnya lima peserta Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).
Ia meminta Kementerian Pertahanan (Kemenhan) melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Latsarmil. Ia menyampaikan keprihatinan atas insiden tersebut sekaligus menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban.
“Saya juga merasa prihatin dengan kejadian ini dan kami turut berbelasungkawa. Saya sarankan sistem pendidikannya dievaluasi secara menyeluruh,” ujar Pigai dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta, Senin (29/6), dikutip dari Media Indonesia.
Pigai menjelaskan, pendidikan bagi calon manajer Kopdes dan KNMP harus membangun tiga aspek utama, yakni pengetahuan, keterampilan, dan mental. Namun, menurutnya, pembentukan mental tidak harus identik dengan pendekatan militer maupun latihan fisik yang berat.
“Bagian yang ketiga ini (mental) tidak harus ditanamkan dengan sistem militer, tetapi sifatnya yakni disiplin, tanggung jawab, cepat, tepat, dan jujur. Harus menghindari latihan fisik yang berlebihan,” tegasnya.
Selain meminta evaluasi metode pelatihan, Pigai juga mendorong penyelidikan profesional terhadap penyebab meninggalnya lima peserta. Menurutnya, proses tersebut penting untuk memastikan penyebab kematian secara ilmiah sekaligus menjadi dasar perbaikan penyelenggaraan program serupa di masa mendatang.
“Lima peserta yang meninggal itu perlu diselidiki secara profesional untuk penyebabnya. Saya perintahkan staf untuk lakukan pemantauan di lapangan,” katanya.
Sebelumnya, Kasus ini menjadi sorotan publik setelah lima calon manajer Kopdes dan KNMP dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti rangkaian Latsarmil dalam Program SPPI.(MI)
Diterbitkan tanggal 29 Juni 2026 by admin












Discussion about this post