KOTA BANJARMASIN belakangan dipenuhi oleh kedai-kedai kopi. Bukan hanya kedai semata, namun merambat juga pada coffee street gerobakan. Beberapa franchise raksasa pun bermunculan seakan ikut meramaikan industri perkopian di kota ini.
Namun, bicara soal kopi, esensinya bukan cuma soal varian rasa yang populer, melainkan obrolan yang mengalir di sela-sela waktu ngopi. Jujur, bagi saya pribadi, beberapa tempat sudah terlalu ramai. Pada akhirnya, distraksi-distraksi itu memicu saya jadi tidak menikmati kopi saya lagi, sekalipun rasanya enak. Tujuan saya ngopi adalah rehat sembari membicarakan apa saja yang terjadi hari ini. Siapapun berhak berekspresi namun belakangan coffee shop menjadi tempat adu gengsi bukan lagi tempat berbicara tentang apapun atau sekedar bercanda. Yang penting kebutuhan sosial terpenuhi.
Lewat seorang kenalan, saya menemui kedai kecil ini. Tempatnya memang sederhana, sebuah kios kecil yang disulap jadi kedai kopi oleh sang pemilik, Haikal. Kedai yang berdiri secara tak sengaja pada tahun 2023 ini berkonsep sangat minimalis.
Di gang kecil itulah, sebuah kedai kopi bernama Baharum berdiri. Buku-buku tersusun, hanya tersedia beberapa kursi kayu dan meja kayu. Ia berbeda dengan tempat lain yang mungkin menjual ambience kekinian dan keramaian. Terkadang ia tidak terlalu ramai, namun lebih intim dengan hanya beberapa orang dengan kisahnya masing-masing. Namun kesederhanaan itulah yang membuatku pada akhirnya pergi ke Baharum.
Baharum buka dari jam 4 sore dan tutup tergantung kapan pengunjung terakhir pulang—tutup sampai pasien habis. Semua dihandle sendirian oleh alumni Ilmu Politik Universitas Indonesia ini. Dulu ia pernah punya pegawai, tapi belakangan ia merasa lebih nyaman sendiri.
“Kalau ditanya apa yang dijual di Baharum, kita tidak jualan kopi. Masih ada tempat lain yang kopinya lebih enak. Kedai kita juga kecil, tapi yang kita jual di sini adalah obrolannya,” ucap Haikal. Tak jarang ia dan pelanggan membicarakan banyak hal, terutama soal politik, ekonomi, dan isu-isu terkini. Filosofi ini sejalan dengan visinya: sebuah wadah komunikasi inter-subyektif yang bersifat egaliter.
“Saya berharap Baharum bisa menjadi ruang bersama dengan interaksi-interaksi yang sederhana. Sebuah ruang publik, wadah komunikasi inter-subyektif yang bersifat egaliter, di mana setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan baru yang belum pernah terpikirkan sebelumnya,” ujarnya.

Tak jarang Baharum menjadi tempat diskusi beberapa pernah mengadakan di sini salah satunya adalah Aksi Kamisan Kalsel. Mereka pun punya kegiatan sendiri yakni dialektikum. Dialektikum adalah sebuah diskusi yang dilakukan di Baharum. Diskusinya boleh apa saja selama berbasis literasi ujar Haikal.
“Kopi adalah teman diskusi. Berbagai macam peristiwa besar lahir dari kedai kopi. Kopi adalah teman diskusi terbaik,” tambahnya.
Haikal selalu mengatakan bahwa ia terbuka pada siapapun yang ingin membuka ruang diskusi. Bukan hanya diskusi formal dalam Dialektikum, tapi obrolan-obrolan “berisi” inilah yang mungkin saya rindukan dan sangat jarang saya temui di kedai kopi lainnya.
Bagi saya, Baharum seperti sebuah jeda di tengah kalimat yang terlalu panjang. Di gang sempit itu, riuh klakson di jalan raya Kayu Tangi mendadak terdengar jauh, digantikan oleh frekuensi manusia yang sedang saling mendengarkan. Di sana, saya tidak perlu menjadi siapa-siapa atau tampil dengan atribut tertentu. Kursi kayu tua dan deretan buku itu seolah memberi izin kepada siapa pun yang datang untuk menanggalkan topeng mereka sejenak, lalu pulang dengan perasaan yang sedikit lebih ringan.
Duduk menikmati kopi, membicarakan apa pun, dan tertawa jujur adalah hal yang saya cari. Mohon maaf, saya agak jenuh dengan gaya ngopi yang harus kalcer, harus keren—meski saya akui saya juga berdandan. Tapi melihat anak-anak yang datang dengan gaya apa adanya sembari memperhatikan mereka yang bersaing di meja domino, buat saya Baharum adalah tempat pelarian yang menenangkan.
Untuk penikmat kopi, saya merekomendasikan Kopi Saring Susu atau ‘Males’. Untuk varian kopi susu, Spanish dan Avocado-nya sangat enak. Dan jangan lupa coba signature mereka: Kopi Susu dengan bubuk kayu manis.
Lokasinya ada di Jalan Kayu Tangi, Komplek Kejaksaan No. 2, persis di samping KUA Banjarmasin Utara (@baharum). Jika kalian mencari tempat yang ramai dan kekinian, Baharum jelas bukan jawabannya. Baharum hanya menawarkan kesederhanaan. Namun, di tengah kota yang bergerak serba cepat, kesederhanaan itulah yang justru paling kita butuhkan.(Rizky)
Diterbitkan tanggal 29 Mei 2026 by admin












Discussion about this post