MEGAPOLIS.ID, BARABAI – Kontingen Karang Taruna Hulu Sungai Tengah (HST) memukau warga Kalimantan Selatan melalui penampilan budaya Banjar di Kemah Karya Bakti Wisata Karang Taruna (KKBWKT) ke-37 di Tanah Laut, Jumat (25/9/2026).
Salah satu penampilan yang mencuri perhatian adalah ritual Baayun Topeng, tradisi Banjar yang memadukan prosesi mengayun anak dengan tari topeng.
Penampilan tersebut disaksikan warga dan peserta KKBWKT, sekaligus menjadi momentum memperkenalkan kekayaan budaya Banjar kepada masyarakat Kalimantan Selatan secara luas.
Ketua Karang Taruna HST, Ahmad Riduan mengatakan, pihaknya sengaja mengangkat Baayun Topeng untuk memperkenalkan tradisi lokal kepada masyarakat.
“Baayun Topeng ini merupakan salah satu kekayaan budaya Banjar yang penting kita kenalkan kepada generasi muda,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan KKBKT menjadi ruang bagi Karang Taruna untuk tidak hanya berkegiatan sosial, tetapi juga melestarikan kebudayaan daerah.
“Kami ingin anak-anak muda tidak hanya mengenal budaya dari cerita, tetapi juga melihat dan merasakan langsung tradisi tersebut,” katanya.
Ia berharap, penampilan tersebut dapat menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya daerah sekaligus mendorong generasi muda ikut menjaga warisan leluhur.
“Harapan kami, budaya seperti Baayun Topeng ini tetap hidup dan tidak hilang di tengah perkembangan zaman,” tutur Ahmad.
Sekadar informasi, Baayun Topeng merupakan tradisi adat Banjar yang menggabungkan prosesi mengayun anak dengan pertunjukan Tari Topeng Banjar sebagai rangkaian utamanya.
Tradisi tersebut memiliki akar sejarah dari masa pra-Islam dan masih dipertahankan dalam sejumlah ritual adat masyarakat Banjar hingga sekarang.
Baayun Topeng biasanya berkaitan dengan ritual Manyanggar Banua, Babunga Tahun, maupun pemenuhan nazar keluarga setelah melewati suatu peristiwa tertentu.
Berbeda dengan Baayun Maulid, Baayun Topeng memiliki rangkaian khusus yang diawali pertunjukan Tari Topeng Banjar sebelum prosesi mengayun dilaksanakan.
Para penari membawakan karakter tertentu, seperti Panji dan Gunung Sari, dalam pertunjukan yang menjadi bagian penting ritual tersebut.
Dalam tradisi masyarakat Banjar, Baayun Topeng juga dikaitkan dengan permohonan kesembuhan, keselamatan anak, serta upaya menolak marabahaya.
Ritual tersebut juga dapat menjadi bentuk pemenuhan nazar keluarga ketika seorang anak telah melewati sakit keras sebelumnya.
Pelaksanaannya secara tradisional kerap mengambil waktu pertengahan bulan Qamariyah, terutama ketika memasuki fase bulan purnama.
Masyarakat memaknai mengecilnya bulan setelah purnama sebagai simbol berkurangnya pengaruh buruk atau bala di lingkungan sekitar.
Kehadiran Baayun Topeng dalam KKBWKT ke-37 menjadi gambaran bahwa tradisi leluhur masih memiliki ruang di tengah kehidupan masyarakat modern.
“Ini bagian dari upaya kami untuk menjaga budaya Banjar sekaligus menunjukkan bahwa pemuda juga punya peran dalam pelestariannya,” tutupnya.(adv/hil)
Diterbitkan tanggal 25 September 2026 by admin












Discussion about this post