MEGAPOLIS.ID, JAKARTA – Harga emas melemah tertekan oleh kenaikan harga minyak dan perubahan retorika Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) yang semakin hawkish sehingga memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Kamis (24/9/2026) ditutup di posisi US$ 4277,98 per troy ons, terendah sejak 16 September 2026. Harganya melemah 0,21%.
Pelemahan ini memperpanjang derita emas dengan ambruk 1,8% dalam dua hari terakhir.
Pada hari ini, Jumat (25/9/2026) pukul 06.39 WIB, harga emas melemah 0,1% ke US$ 4273,71 per troy ons.
“Emas terus terbebani oleh kenaikan harga energi dan suku bunga yang lebih tinggi. Dengan harga energi yang meningkat, kekhawatiran terhadap inflasi ikut membesar dan membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan oleh The Fed,” kata David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, dikutip dari Refinitiv.
Harga minyak naik sekitar 2% pada Kamis setelah serangan rudal Houthi ke Arab Saudi kembali memicu kekhawatiran gangguan pasokan.
Kenaikan harga energi dapat mendorong inflasi karena produsen meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen.
Kondisi tersebut dapat memaksa bank sentral menerapkan kebijakan moneter yang lebih ketat untuk menekan harga.
The Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pada pekan lalu dan memberi sinyal masih akan menaikkan suku bunga tahun ini.
Sejumlah pejabat The Fed kembali menegaskan perlunya kenaikan lebih lanjut, dengan Gubernur The Fed Michael Barr menjadi pejabat terbaru yang menyoroti kebutuhan akan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang 69% kenaikan suku bunga pada Oktober, berdasarkan CME FedWatch Tool.
Meski emas secara tradisional dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga membuat daya tarik emas berkurang.
Tekanan terhadap emas juga datang dari dolar AS yang menyentuh level tertinggi dalam dua bulan.
Kondisi ini membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
Sementara itu, yield Treasury AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar level tertinggi dalam hampir dua dekade, sehingga meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, meramal harga emas bisa jatuh ke US$ 4.000 bila tekanan berlanjut.
“Level support emas di sekitar US$4.235 menjadi level pertama yang perlu diperhatikan. Jika level tersebut ditembus, pasar berpotensi mengalami koreksi lebih dalam dan kembali mengarah ke area US$4.000, seperti pada Juni-Juli,” kata Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank.
Harga Perak Juga Jatuh
Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Kamis (24/9/2026) ditutup di posisi US$ 63,91 per troy ons. Harganya melemah 0,27%.
Pelemahan ini memperpanjang derita perak dengan jatuh 4,78% dalam dua hari terakhir.
Pada hari ini, Jumat (25/9/2026) pukul 06.41 WIB, harga perak masih melandai 0,3% ke US$ 63,73 per troy ons.(sumber: CNBC)
Diterbitkan tanggal 25 September 2026 by admin












Discussion about this post