MEGAPOLIS.ID, PULANG PISAU – Perjuangan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah, belum usai. Sejak 13 Juli 2026, minimal 11 relawan desa bersama Masyarakat Peduli Api (MPA) terus berjibaku memadamkan titik-titik api yang muncul di medan yang sulit.
Keterbatasan air, akses menuju lokasi kebakaran yang sempit, arah angin yang berubah-ubah, serta tanah gambut yang mudah menyala kembali menjadi tantangan sehari-hari.
Ketua MPA Tanjung Taruna, Juni R (47), menggambarkan kondisi di lapangan sebagai pekerjaan yang menguras tenaga.
“Sumber api tidak selalu mudah dijangkau. Kondisi tanah gambut yang terbakar juga membuat api sulit dipastikan benar-benar padam,” ujarnya.
Persoalan lain yang memperberat situasi adalah kerusakan dua mesin pemadam yang digunakan untuk mendukung operasi. Di tengah keterbatasan peralatan itu, kebutuhan konsumsi dan logistik bagi para relawan pun masih terbatas.
Sementara api masih merayap, kualitas udara terus memburuk akibat kepulan asap yang pekat. Paparan asap intensitas tinggi tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat dan relawan yang setiap hari berada di sekitar lokasi.
Batuk dan pilek menjadi keluhan yang umum. Bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit paru atau gangguan pernapasan, asap dapat memicu sesak yang lebih berat.
Dokter Bela dari RSUD Pulang Pisau menegaskan risiko tersebut. Paparan asap karhutla dapat meningkatkan gangguan saluran pernapasan, dan dalam intensitas tinggi bahkan berpotensi menimbulkan gangguan paru akut. Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia memerlukan perhatian khusus.

Pemeriksaan saturasi oksigen menjadi penting bagi mereka yang mulai mengalami keluhan. Oleh karena itu, dukungan kesehatan—obat-obatan untuk infeksi saluran pernapasan, vitamin, masker, hingga oksigen portabel—dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari penanganan karhutla.
Solidaritas yang Hadir di Garis Depan
Di tengah situasi sulit itu, Gerakan Bersama Peduli Karhutla hadir membawa dukungan langsung. Gerakan yang digagas sebagai bentuk pengabdian Sekolah Tinggi Teologi (STT) ini menggandeng LK3 Banjarmasin, Peruati Banjarmasin, Sinode GKE, PIKI Kalsel, RSUD Pulang Pisau, serta didukung Yayasan Suaka Ananda.
Bantuan yang disalurkan meliputi masker, oksigen portabel, obat-obatan, dan sembako. Tidak hanya penyerahan bantuan, pemeriksaan kesehatan gratis juga digelar bagi masyarakat dan relawan.
MayLinda, perwakilan Gerakan Bersama Peduli Karhutla, mengatakan kegiatan ini lahir dari empati dan solidaritas. “Tidak banyak yang bisa kami berikan, tetapi mudah-mudahan ini menjadi awal dan bisa berlanjut lagi,” ucapnya.
Menurutnya, kehadiran mereka adalah cara untuk menunjukkan bahwa warga di wilayah terdampak tidak berjalan sendirian.
Kepala Departemen Kesehatan GKE dan RSUD Pulang Pisau, dr. Yogi, mengingatkan bahwa penanganan dampak karhutla merupakan proses panjang yang sudah berlangsung sejak Juli.
Masyarakat dan relawan masih menantikan hujan yang diharapkan dapat membantu memadamkan sisa api sekaligus mengurangi paparan asap.
“Kita sekarang masih menantikan hujan. Kita terus berdoa dan ikhtiar,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, ia menyerahkan bantuan obat-obatan dan menekankan pentingnya keberlanjutan kepedulian. “Meskipun skalanya tidak besar, tetapi mudah-mudahan memberikan dampak,” tambahnya.
Apresiasi juga datang dari PIKI. Heryani menyoroti dedikasi para relawan yang telah mengorbankan waktu dan tenaga menghadapi api sekaligus asap. “Kami hadir sebagai bentuk kepedulian. Kami melihat semua dedikasi dan pengorbanan yang dilakukan. Doa kami, semoga seluruh warga dan tim selalu diberikan kesehatan,” katanya.
Ia menekankan bahwa kesehatan relawan seharusnya menjadi bagian integral dari sistem penanganan bencana, bukan sekadar persoalan tambahan.
Pelajaran Manajemen Bencana dari Lapangan
Ketua Sekolah Tinggi Sinode GKE, Dr. Sanon, melihat karhutla yang berlangsung berbulan-bulan ini berpotensi berkembang menjadi persoalan kebencanaan yang lebih serius.
Namun di balik kesulitan itu, ia juga mencatat munculnya solidaritas lintas pihak sebagai sesuatu yang patut disyukuri. “Ini bisa menjadi bencana. Tetapi kita juga mensyukuri karena ini menimbulkan kepedulian,” ujarnya.
Pengalaman ini, menurutnya, harus menjadi bahan evaluasi bersama untuk membangun sistem manajemen bencana yang lebih kuat, termasuk memperkuat kapasitas relawan di tingkat desa. Jumlah 11 relawan desa yang saat ini terlibat menunjukkan pentingnya penguatan di tingkat paling dekat dengan sumber bencana.
Direktur Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin, Abdani Solihin, menekankan bahwa penanganan karhutla tidak boleh hanya dilihat sebagai upaya memadamkan api.
Di balik kebakaran yang berlangsung berhari-hari terdapat masyarakat dan relawan yang membutuhkan perlindungan, terutama dari dampak asap dan risiko kesehatan. “Yang kita bangun bukan hanya respons sesaat, tetapi solidaritas dan sistem. Ketika ada bencana, masyarakat tidak boleh merasa sendirian. Jejaring yang ada harus bisa bergerak bersama, saling mendukung sesuai kapasitas masing-masing,” katanya.
Abdani menegaskan pentingnya kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, lembaga kesehatan, organisasi masyarakat sipil, perguruan tinggi, komunitas lingkungan, dan kelompok keagamaan.
Dukungan terhadap relawan tidak boleh berhenti pada saat bantuan disalurkan.
Perlindungan kesehatan, penguatan kapasitas, dukungan peralatan, serta jejaring respons perlu dibangun sebagai sistem yang berkelanjutan.
“Karhutla bukan hanya tentang bagaimana memadamkan api. Kita juga harus memastikan orang-orang yang memadamkannya tetap sehat, masyarakat terlindungi dari asap, dan sistem penanggulangan bencana dibangun sebelum api kembali datang,” katanya.
Sementara hujan masih dinantikan, para relawan Tumbang Nusa terus bertahan. Di antara kepulan asap yang belum sepenuhnya pergi, solidaritas yang muncul dari berbagai pihak menjadi pengingat bahwa menghadapi bencana tidak cukup hanya dengan air dan mesin pemadam.
Kepedulian yang terus menyala adalah bagian tak terpisahkan dari upaya menyelamatkan hutan, lahan, dan manusia di dalamnya.(Rizky)
Diterbitkan tanggal 17 September 2026 by admin












Discussion about this post