MEGAPOLIS.ID, BANJARMASIN – Sebuah inisiatif sosial berbasis kepemudaan kembali menunjukkan perkembangannya di Kalimantan Selatan. Ikatan Mahasiswa Peduli Indonesia (IMPI), mulai memperluas jangkauan gerakannya melalui aksi sosial di ruang publik.
Gerakan ini mulanya berakar dari perkumpulan bernama Maba Peduli Banjarmasin. Pada fase awal pembentukannya, komunitas ini murni diinisiasi oleh mahasiswa baru yang berfokus pada kegiatan tanggap kemanusiaan, seperti aksi penggalangan dana bagi warga yang tertimpa bencana.
Melihat besarnya potensi partisipasi publik di luar kelompok angkatan pertama perkuliahan, para perintis gerakan mengambil langkah ekspansi. Wadah tersebut kemudian berganti nama menjadi Ikatan Mahasiswa Peduli Indonesia (IMPI). Perubahan nama ini bukan sekadar pergantian identitas, melainkan pembukaan pintu partisipasi yang lebih inklusif bagi jejaring mahasiswa lintas kampus, kalangan pelajar, hingga masyarakat umum.
Bukti perluasan basis gerakan ini terlihat dalam aksi sosial terbaru mereka di kawasan lampu merah Fly Over Banjarmasin. Sebanyak 55 relawan diterjunkan untuk membagikan 1.000 masker secara cuma-cuma kepada pengguna jalan mulai sekitar pukul 17.00 WITA. Aksi ini digelar sebagai bentuk tanggapan cepat terhadap kabut asap akibat karhutla di Kalimantan.
Barisan 55 relawan tersebut merupakan representasi dari beragam latar belakang pendidikan dan masyarakat. Relawan perguruan tinggi datang dari berbagai institusi, antara lain Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Universitas Islam Kalimantan (UNISKA), Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB), dan Universitas Terbuka (UT), yang berbaur bersama sejumlah pelajar dan warga.

Di bawah koordinasi tiga figur penggerak, Fajar Arifin, M. Gilank Atha Hibrizi, dan Muhammad Sandy, pembagian masker berjalan tertib dan terstruktur. Resepsi publik di persimpangan jalan sangat positif, dengan respons hangat yang ditunjukkan para pengendara saat menerima pembagian.
Pertumbuhan gerakan ini juga ditandai oleh tingginya ketertarikan calon sukarelawan baru. Panitia pelaksana mengonfirmasi bahwa pendaftaran relawan sempat diminati oleh banyak pemuda, hingga akhirnya diputuskan untuk dibatasi pada angka 55 orang demi efisiensi kebutuhan lapangan. Selainitu, sejumlah tawaran kolaborasi dari berbagai pihak mulai berdatangan kepada pengurus IMPI.
Bagi jajaran inisiator, perluasan wadah ini menjadi fondasi penting agar pemuda tidak hanya bersuara pasif, melainkan mengorganisasi kepedulian menjadi kerja nyata berkelanjutan.
Salah satu koordinator IMPI, Muhammad Sandy, menggarisbawahi esensi dari arah transformasi gerakan yang tengah mereka bangun bersama. “Wadah ini kami buka lebih lebar karena kami percaya mahasiswa dan generasi muda tidak cukup hanya bersuara atau mengkritik situasi. Ketika masyarakat membutuhkan bantuan di lapangan, kita harus hadir membuka ruang bersama untuk bertindak nyata dan memberi manfaat langsung,” ujar Muhammad Sandy.
Melalui saluran komunikasi resmi di akun Instagram @impikita, IMPI terus memantapkan visi untuk menjadi ruang kerelawanan yang berkelanjutan di masa depan. Selaras dengan slogan mereka, “Sedikit aksi, besar arti untuk IMPI kita menggapai cita,”. Kelompok ini berupaya membuktikan bahwa inisiatif mahasiswa baru dapat bertransformasi menjadi platform kolaborasi sosial yang berdampak nyata.(rls-IMPI)
Diterbitkan tanggal 24 Agustus 2026 by admin












Discussion about this post