MEGAPOLIS.ID, BANJARMASIN – Acara yang berlangsung dari tanggal 9 sampai 25 Agustus 2026 ini menampilkan 32 karya dari 32 perupa asal Kalimantan, yang berhasil lolos setelah melewati proses kuratorial ketat dari total 37 karya yang diajukan.
Pameran ini digagas oleh seniman dan budayawan Hajriansyah bersama Eky sebagai inisiator. Event ini menjadi langkah awal menuju Biennale Kalimantan di masa mendatang.
Pameran tidak hanya menyuguhkan karya lukis konvensional, tetapi juga diramaikan oleh berbagai instalasi artistik.
Menariknya, eksplorasi instalasi ini tidak hanya tertata di dalam ruang pameran utama Gedung Wargasari Taman Budaya Kalimantan Selatan, melainkan beberapa spot di luar ruangan turut digubah menjadi bagian dari karya instalasi yang imersif.
Mengusung tema besar tentang wacana pangan, pameran ini membedah bagaimana makanan bukan sekadar substansi biologis, melainkan mata rantai yang menghubungkan manusia dengan alam serta sesamanya. Isu krusial ini dikupas melalui berbagai sudut pandang—mulai dari sejarah rempah, tradisi lokal seperti ladang basah di dataran Barito, penumbukan sagu di tepi Kapuas, hingga pembakaran lemang dalam bambu di perbukitan Meratus.
Melalui medium seni rupa, para perupa mengajak publik untuk melihat dapur, meja makan, hingga rantai pasok sebagai “tempat kejadian perkara” tempat bermuaranya sejarah, memori kolektif, dan identitas kebudayaan.
Wacana pangan yang diangkat dalam pameran ini dapat disaksikan oleh masyarakat luas selama dua minggu ke depan di Taman Budaya Kalimantan Selatan.
Apresiasi dan Dukungan Pengunjung
Kehadiran pameran ini turut menarik perhatian berbagai kalangan, salah satunya datang dari Zamrud Setya Negara yang hadir langsung sebagai pengunjung.
Sosok yang aktif di ranah seni rupa dan turut mengawal pameran ini menyampaikan respons yang sangat suportif terhadap perhelatan tersebut. Ia berharap momentum ini mampu menjadi batu loncatan yang matang menuju Biennale Kalimantan di masa mendatang, sekaligus menjadi wadah yang berkelanjutan bagi para perupa di regional ini.
“Kita bisa melihat banyak karya dari seniman-seniman di Kalimantan. Saya harap ini bisa jadi wacana dan dirancang dengan baik menuju Biennale Kalimantan.
Tinggal bagaimana wacana yang sudah dimulai ini pelan-pelan dipupuk. Harapan saya Pra ini menjadi Road to Biennale Kalimantan dan bukan hanya di Kalimantan Selatan saja namun bergulir di seluruh Kalimantan,” ungkapnya.

Ia juga mengaku takjub pada salah satu karya instalasi dari seniman muda bernama Zahra, yang memanfaatkan kardus Indomie sebagai medium pengusung wacana pangan yang menjadi tema utama kegiatan ini.
“Wacana yang dibawa Zahra sangat bagus. Saya berharap ia selalu ditantang untuk bisa membawa wacana atau gagasan baru dalam setiap karyanya,” pungkasnya.
So, jangan lupa datang ke Pra-Biennale Kalimantan! Bukan hanya karya rupa, ada berbagai instalasi menarik yang bisa disaksikan langsung di lokasi.(Rizky)
Diterbitkan tanggal 12 Agustus 2026 by admin












Discussion about this post