MEGAPOLIS.ID, JAKARTA – Ketika malam tiba di puncak Gunung Bundar, Dusun Pujoraharjo, Desa Banjaran, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, lampu-lampu mulai menyala dari rumah-rumah warga.
Anak-anak belajar, warga berbincang di ruang keluarga, dan telepon seluler mulai diisi daya.
Namun, cahaya yang menerangi dusun itu bukan berasal dari jaringan listrik PLN. Hingga kini, dusun yang dihuni 104 kepala keluarga (KK) atau 334 jiwa itu masih belum menikmati aliran listrik negara.
Di tengah keterbatasan tersebut, warga memilih membangun sumber listrik secara swadaya. Sebagian memanfaatkan turbin mikrohidro yang digerakkan aliran sungai pegunungan, sementara lainnya memasang panel tenaga surya di rumah masing-masing. Semuanya dilakukan agar kehidupan di puncak gunung tetap diterangi cahaya.
Belajar dari Kampung Tetangga
Salah seorang warga, Turyanto, mengatakan kebutuhan listrik semakin penting seiring perkembangan teknologi.
“Sekarang ini zamannya sudah maju. Ada handphone yang butuh setrum, kita juga butuh penerangan.
Kalau masih pakai lampu sentir seperti dulu rasanya sudah tidak mungkin lagi,” kata Turyanto kepada Kompas.com, Rabu (15/7/2026).
Keinginan memiliki listrik muncul setelah warga mengetahui kampung tetangga berhasil membangun pembangkit listrik mikrohidro secara mandiri.
Berbekal pengalaman itu, warga Pujoraharjo mulai belajar hingga akhirnya membangun turbin mikrohidro secara swadaya pada 2012.
“Kami belajar dari kampung tetangga yang sudah lebih dulu membuat turbin. Dari situ muncul keinginan masyarakat untuk membuatnya juga secara swadaya,” ujarnya.
Saat ini terdapat empat turbin mikrohidro yang dibangun secara gotong royong. Setiap turbin mampu melayani sekitar 11 hingga 15 kepala keluarga dengan kapasitas listrik yang terbatas.
Tidak semua rumah warga dapat teraliri listrik dari turbin, sebagian memilih menggunakan panel surya.
Patungan hingga Rp20 Juta
Membangun satu turbin mikrohidro membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Menurut Turyanto, warga harus bergotong royong mengumpulkan dana hingga sekitar Rp 20 juta per turbin.(sumber: KOMPAS)
Diterbitkan tanggal 17 Juli 2026 by admin












Discussion about this post