MEGAPOLIS.ID, BANJARMASIN – Yessi Talibo, anggota jaringan GUSDURian Manado, bukan hanya peserta biasa dalam kegiatan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) yang berlangsung 21 sampai 24 September 2026 lalu di Banjarmasin.
Perjalanannya menunjukkan bagaimana kesadaran pribadi bisa berubah menjadi komitmen advokasi. Dalam wawancara khusus, ia membuka cerita tentang awal keterlibatannya, peran anak muda, pengalaman di Banjarmasin, hingga tanggung jawab kolektif menjaga kerukunan.
Awal Keterlibatan: Dari Diskusi PMII hingga Skripsi tentang Gusdurian
Ketika ditanya bagaimana ia bisa terlibat dalam gerakan KBB dan apa yang membuatnya ingin lebih jauh, Yessi menceritakan proses yang bertahap namun dalam.
“Awalnya saya gabung di salah satu organisasi Cipayung, yaitu PMII. Di sana saya mulai terbiasa dengan diskusi-diskusi soal kemanusiaan dan keberagaman. Suatu waktu saya mengikuti diskusi GUSDURian Manado. Saat itu GUSDURian sering mengundang tokoh-tokoh agama di Sulawesi Utara. Kami membahas kasus intoleransi, konsep keberagaman di Sulut khususnya Manado, gender, feminisme, dan banyak hal lain,” jelasnya.
Dari diskusi itu, ketertarikannya pada isu kebebasan beragama dan berkeyakinan tumbuh. Ia tidak lagi melihat KBB sebagai konsep abstrak, melainkan persoalan nyata yang dialami masyarakat sehari-hari.
Di akhir masa kuliah, ia memilih skripsi tentang sejarah gerakan GUSDURian. Dalam penelitiannya, Yessi menulis berbagai rekaman aktivitas GUSDURian yang bersentuhan langsung dengan isu-isu KBB di Manado. Dari situ ia memutuskan bergabung dengan jaringan GUSDURian
“Yang membuat saya ingin terlibat jauh adalah ketika saya menyadari bahwa persoalan KBB sangat dekat dengan kehidupan kita. Kadang persoalannya tidak hanya tentang agama, tetapi juga bagaimana kita memandang dan menyikapi perbedaan atau keyakinan orang lain,” ujarnya.
Setelah beberapa tahun aktif di GUSDURian Manado dan berjejaring dengan Sekber KBB, kesadaran kolektif muncul.

Mereka menginisiasi Koalisi Advokasi KBB Sulawesi Utara. “Anak muda tidak cukup hanya sebagai orang yang tahu isu ini, tetapi juga perlu mengambil bagian dalam menciptakan ruang yang lebih aman untuk perbedaan. Karena itu saya ingin belajar lebih banyak, bertemu berbagai kelompok, dan ikut terlibat dalam kerja-kerja advokasi yang mendorong masyarakat melihat keberagaman bukan sebagai ancaman, melainkan bagian dari kehidupan bersama,” tegas Yessi.
Peran Anak Muda: Dari Akar Rumput hingga Melawan Narasi Kebencian di Media
Yessi menegaskan bahwa anak muda memiliki posisi strategis dalam gerakan KBB. Peran mereka tidak hanya sebagai penonton, tetapi sebagai pembentuk cara pandang dan kebiasaan di lingkungan sehari-hari.
“Menurut saya peran anak muda cukup besar. Kita punya posisi strategis terutama dalam membangun cara pandang di lingkungan sehari-hari yang kemudian dianut menjadi kebiasaan dalam berperilaku, berpikir, atau menilai sesuatu. Mulai dari gerakan akar rumput, menyebar atau menyerap informasi yang benar dan valid,” katanya.
Di era digital, anak muda dengan mudah terpapar berbagai narasi, termasuk kebencian, provokasi, dan stereotip terhadap kelompok tertentu.
“Kita sebagai anak muda bisa mengambil sikap untuk melawan segala bentuk ancaman intoleransi di media dengan cara menyebar konten edukatif, tidak provokatif, dan menghargai perbedaan,” ucapnya.
Contoh konkret yang ia sebutkan antara lain: menjadi jembatan antar kelompok melalui diskusi sederhana lintas iman, kunjungan ke tempat ibadah, atau kegiatan kreatif serupa. Anak muda juga bisa terlibat langsung dalam advokasi ketika muncul persoalan terkait isu KBB.
Kunjungan ke Tempat Ibadah di Banjarmasin: Perjumpaan yang Mengubah Cara Pandang
Sebagai peserta kegiatan KBB di Banjarmasin, Yessi mendapat pengalaman berharga dari kunjungan ke beberapa tempat ibadah komunitas. Baginya, ini bukan sekadar wisata religius, melainkan perjumpaan yang mengubah pemahaman.
“Dari kunjungan ke beberapa tempat ibadah di kegiatan kemarin, hal yang saya dapat adalah pengalaman. Pengalaman bertemu dan melihat keberagaman itu benar-benar hidup di tengah masyarakat. Saya belajar bahwa mengenal kelompok lain secara langsung memberikan pengalaman berbeda dibandingkan hanya mengetahui mereka melalui informasi atau media sosial. Ini jadi poin utama menurut saya,” jelasnya.
Ketika datang berdialog dan mendengarkan cerita, ia memahami bahwa setiap perbedaan memiliki pengalaman, kebutuhan, dan tantangan masing-masing.
“Saya juga melihat bahwa kerukunan bukan berarti semua orang harus memiliki keyakinan yang sama. Justru kerukunan itu dibangun dengan kemampuan untuk saling mendampingi meskipun kita berbeda,” lanjutnya.
Kunjungan tersebut menciptakan perjumpaan yang penting. “Dengan begitu kita tidak lagi melihat kelompok lain sebagai kelompok yang berbeda, tetapi sebagai manusia yang punya cerita, keluarga, kekhawatiran, bahkan harapan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya lagi.
Tanggung Jawab Setiap Elemen: Kerukunan Bukan Sekadar Absennya Konflik
Menjaga kerukunan dan keharmonisan, baik di Banjarmasin maupun daerah lain, menurut Yessi, adalah tanggung jawab bersama. Tidak boleh dibebankan hanya pada satu pihak.
“Menurut saya, menjaga kerukunan tidak hanya dibebankan kepada satu pihak. Pemerintah, tokoh agama, masyarakat, komunitas, media, dan khususnya anak muda sangat berperan aktif dalam gerakan ini,” ujarnya.
Pemerintah harus memastikan setiap warga negara memiliki hak yang sama dan terlindungi ketika menghadapi diskriminasi atau persoalan KBB. Tokoh agama berperan penting membangun narasi agama yang cinta damai. Komunitas atau organisasi masyarakat bisa menyediakan ruang pendidikan, advokasi, bahkan perjumpaan lintas iman.
Yang paling penting baginya, jangan memaknai kerukunan hanya sebagai ketika tidak adanya konflik. Kerukunan yang sehat adalah kita bisa bertanggung jawab dan bersikap ketika ada perbedaan, atau bahkan benturan. “Kita memilih cara yang adil dan damai untuk menyelesaikannya. Karena keberagaman bukan berarti tanpa konflik. Yang penting adalah bagaimana kita mengolah perbedaan itu agar tidak berubah menjadi diskriminasi, kekerasan, atau bahkan permusuhan,” katanya.
Perjalanan Yessi Talibo menunjukkan bahwa gerakan KBB tumbuh dari kesadaran pribadi yang kemudian menjadi aksi kolektif.
Dari diskusi di Manado hingga perjumpaan di Banjarmasin, ia terus menekankan anak muda tidak cukup hanya tahu, tetapi harus ikut menciptakan ruang yang lebih aman bagi perbedaan.(Rizky)
Diterbitkan tanggal 5 Oktober 2026 by admin












Discussion about this post