MEGAPOLIS.ID, JAKARTA – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus dilakukan, helikopter dari Jepang mulai dikerahkan, satwa-satwa terdampak bencana menjadi perhatian.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang diterima Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Selasa (8/9/2026), wilayah Kalimantan masih menjadi kawasan dengan sebaran polutan paling pekat.
“Sebaran polutan yang kami peroleh dari BMKG hari ini, 8 September 2026, kita lihat bahwa titik pekat masih berada di Kalimantan yang luas,” kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, di Kantor BNPB, Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Berton menjelaskan, sebaran polutan akibat karhutla terpantau di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.
Asap karhutla juga terpantau menyebar ke sejumlah wilayah lain di Sumatera dan Papua.
BNPB memperkirakan kondisi tersebut belum akan mengalami perubahan signifikan dalam waktu terdekat.
“Untuk besok hari juga kita lihat hal yang sama juga terjadi, bahwa sebaran polutan ada di provinsi-provinsi ini,” jelasnya.
Tiga Helikopter Jepang Disiapkan
Di tengah kepungan asap karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan, bantuan dari Jepang mulai tiba untuk memperkuat upaya pemadaman.
Kapal induk Jepang yang membawa tiga helikopter Chinook CH-47 untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah tiba di perairan Kalimantan Barat pada Rabu (9/9/2026).
“Kalau kapal induk Jepang, hari ini, sudah sampai di perairan, sore ini, di perairan Kalimantan Barat,” kata Karo Infohan Setjen Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Brigjen Rico Sirait, di kantor Kemenhan, Jakarta.
Rico mengatakan, kapal tersebut akan merapat di Pelabuhan Kijing, Mempawah, Kalimantan Barat, pada Kamis (10/9/2026).
Setelah itu, tiga helikopter CH-47 akan mulai didaratkan di Bandara Supadio.
“Nanti harapannya tanggal 11 atau 12 baru mulai melaksanakan operasi penanggulangan bencana, kaitannya dengan Karhutla,” ujarnya.
Kemenhan memastikan kendali operasi tiga helikopter CH-47 Chinook milik Jepang tetap berada di tangan Indonesia.
“Jadi, kami perlu tegaskan bahwa Indonesia tetap memegang kendali dalam penanganan Karhutla. Kehadiran aset dan personel Jepang untuk mengoperasionalkan serta mendukung kemampuan yang mereka berikan,” jelas Letjen TNI Tri Budi Utomo, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, dalam Konferensi Pers.
Menurut Budi, operasi pemadaman akan terintegrasi dengan mekanisme penanganan bencana yang dijalankan pemerintah Indonesia.
Pontianak akan menjadi pangkalan utama (home base) operasional penerbangan ketiga helikopter tersebut.
“Sementara Terminal Pelabuhan Kijing dipersiapkan sebagai lokasi kedatangan JS Kunisaki. Tim pendahulu Jepang juga telah melakukan peninjauan lapangan untuk memastikan kesiapan lokasi dan fasilitas pendukung,” jelasnya.
Dalam operasi tersebut, Jepang juga mengerahkan sekitar 180 personel yang terdiri atas kru pengoperasi ketiga helikopter dan unsur pendukung lainnya.
“Ketiga helikopter tersebut dibawa menggunakan kapal JS Kunisaki bersama dengan sekitar 150 awak kapal. Sesuai rencana saat ini, JS Kunisaki dijadwalkan akan tiba di Terminal Pelabuhan Kijing, Kalimantan Barat, pada 9 September 2026,” ungkapnya.
Satwa Liar Jadi Perhatian
Penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman api. Keselamatan masyarakat dan satwa liar juga menjadi perhatian pemerintah.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengungkapkan, Presiden Prabowo Subianto meminta agar penanganan karhutla turut memperhatikan keselamatan satwa liar yang terdampak.
“Pak Prabowo Subianto, secara personal beliau adalah pecinta satwa liar ya. Beberapa satwa liar yang dicintai itu gajah dan orangutan ya. Jadi beliau juga memerintahkan ya, kepada saya, untuk padamkan karhutlanya, segera mungkin,” kata Raja di Kalimantan Tengah, dikutip dari keterangannya.
Karena itu, Presiden memerintahkan agar karhutla segera dipadamkan sekaligus memastikan dampaknya terhadap manusia dan satwa dapat ditangani.
Menurut Raja, perlindungan terhadap masyarakat dilakukan dengan memastikan kesiapan fasilitas kesehatan serta penggunaan masker untuk mengurangi dampak paparan asap.
Sementara itu, untuk melindungi satwa liar, pemerintah melakukan langkah penyelamatan atau rescue terhadap satwa yang terdampak kebakaran.
“Jadi apinya kita usahakan padam, padamkan ya, tapi di saat bersamaan, langkah emergensi untuk rescue ini menjadi sangat penting sekali,” katanya.(sumber: Kompas)
Diterbitkan tanggal 10 September 2026 by admin












Discussion about this post