MEGAPOLIS.ID, BANJARMASIN – Kabut asap di Kalimantan seakan menjadi momok tak terelakkan. Yang paling merasakan dampaknya tentu mereka yang berada di garda terdepan—para relawan yang tak jarang harus bertaruh nyawa demi memadamkan kobaran api. Kini, seluruh perhatian tertuju ke Kalimantan Tengah setelah dua relawan gugur dalam penanganan karhutla yang tak kunjung usai.
Duka mendalam datang dari garis depan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Dua relawan yang berjuang memadamkan api meninggal dunia dalam rentang beberapa hari setelah mengalami gangguan kesehatan saat bertugas.
Korban pertama, Akhmad Rizani (54), Ketua Tim Serbu Api Kecamatan/Kelurahan (TSAK) Jekan Raya atau TSAK Palangka, Palangka Raya. Sabtu (22/8/2026), ia turun memadamkan kebakaran lahan di Jalan Rungan (belakang Kantor Kecamatan Jekan Raya) atau mengecek lokasi pasca-pemadaman di wilayah Petuk Katimpun.
Saat di lokasi, kondisinya tiba-tiba drop sambil memegang dada dan sesak napas. Sempat dikira bercanda oleh rekan, ia lalu dievakuasi ke RS Betang Pambelum. Setelah dirawat selama sekitar enam hari, Rizani meninggal dunia pada Kamis (27/8/2026) siang.
Ia memiliki riwayat hipertensi. Diduga kelelahan ditambah cuaca panas dan kabut asap memperburuk kondisinya. Rizani sudah hampir 10 tahun aktif sebagai relawan sejak TSAK terbentuk tahun 2016. Ia dikenal sebagai pekerja keras yang sering menangani mesin pompa di lapangan. Almarhum meninggalkan istri dan empat anak.
Walikota Palangka Raya Fairid Naparin sempat melayat dan menyatakan dedikasi almarhum luar biasa. Pemko kemudian mewajibkan pemeriksaan kesehatan bagi relawan sebelum bertugas, sementara rekan-rekan meminta APD yang lebih baik untuk menghadapi asap.
Duka kembali datang tiga hari kemudian dari Kabupaten Kotawaringin Barat. Ahmadin alias Itam Madin bin Gusti Djamliansyah, relawan Damkar Huma Singgah Itah, meninggal dunia pada Minggu (30/8/2026) malam. Ia aktif terlibat dalam penanganan karhutla di wilayah Kobar dan mengalami sesak napas karena asap setelah bertugas sekitar satu pekan. Ahmadin dirawat di RSUD Sultan Imanudin Pangkalan Bun, namun kondisinya memburuk hingga mengembuskan napas terakhir. Jenazahnya dimakamkan sehari kemudian.
Sebelumnya, dua anggota Satgas Karhutla dirawat di rumah sakit yang sama; satu petugas lainnya masih dalam perawatan.
Kepergian Ahmadin menjadi pukulan bagi keluarga, rekan relawan, dan petugas penanganan karhutla.
Kepergian keduanya menjadi pengingat bahwa di balik upaya memadamkan api dan melindungi wilayah dari meluasnya karhutla, para relawan juga menghadapi risiko kesehatan yang tidak kecil di tengah kabut asap dan cuaca ekstrem. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan.(dikutip dari detik.com/berbagai sumber)
Diterbitkan tanggal 3 September 2026 by admin













Discussion about this post