MEGAPOLIS.ID, BANJARMASIN – Sanggar Seni Demokrasi (SSD) menggelar Artsong System 9 di Wetland Square, Banjarmasin, Sabtu (4/7/2026) malam.
Mengusung lokasi baru, ajang musik tahunan tersebut menghadirkan pengalaman berbeda sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara.
Acara yang dimulai pukul 19.00 WITA dibuka penampilan Minor, kemudian dilanjutkan Volcanotory dan Corteo. Setelah sesi Deep Talks, gelaran ditutup dengan penampilan Nevra.
Dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya yang berlangsung di area parkir FISIP ULM, Artsong tahun ini menghadirkan suasana yang lebih tenang. Antusiasme penonton tetap terlihat, meski atmosfer circle pit tidak seintens tahun-tahun sebelumnya.
Vokalis Corteo, Iqbal, yang juga mantan Ketua Pelaksana Artsong serta mantan Ketua Umum SSD, menilai antusiasme penonton tetap terjaga.
Menurutnya, waktu pelaksanaan pada Sabtu malam setelah sebagian orang baru pulang bekerja turut memengaruhi suasana acara.
“Saya rasa malam ini penonton tetap antusias. Mungkin karena mereka baru pulang bekerja, padahal ini malam Minggu,” ujarnya.
Iqbal mengapresiasi keberanian panitia memilih Wetland Square sebagai lokasi baru. Ia menilai kualitas penyelenggaraan meningkat, terutama dari sisi sound system dan visual panggung yang lebih profesional dibandingkan konsep sebelumnya.
Sementara itu, Ketua Umum SSD, Vincent, mengakui masih ada sejumlah catatan, terutama terkait mobilisasi penonton.
Menurutnya, penyebaran informasi yang belum maksimal membuat audiens masih didominasi delegasi internal FKPSK dan UKM FISIP.
Meski demikian, Vincent menilai fasilitas di Wetland Square sangat membantu kelancaran acara. Lighting, LCD, sound system, hingga panggung telah tersedia, ditambah adanya potongan biaya sewa dari pihak pengelola.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Lab Art atas dukungan dokumentasi, serta LPM INTRO, KM FISIP, dan para sponsor yang turut menyukseskan kegiatan tersebut.
Ketua Pelaksana Artsong System 9, Ridho, mengungkapkan bahwa penyelenggaraan tahun ini menjadi pengalaman berharga bagi panitia.
Minimnya pengalaman praktis membuat mereka harus banyak belajar selama proses persiapan hingga pelaksanaan.
“Awalnya kami sempat khawatir akan terjadi kerusuhan atau emosi negatif dari penonton. Namun setelah melihat langsung, ternyata dinamika itu memang sudah menjadi bagian dari budaya yang dipahami para penonton,” katanya.
Ridho menegaskan, evaluasi tahun ini akan menjadi bekal untuk penyelenggaraan berikutnya. Ia berharap persiapan teknis maupun konsep dapat dilakukan lebih matang sejak awal.
Senada dengan itu, Iqbal berharap Artsong terus berkembang, baik melalui konsep ruang terbuka, penambahan line-up band, maupun penyelenggaraan selama dua hari agar pengalaman penonton semakin maksimal.(Rizky)
Diterbitkan tanggal 5 Juli 2026 by admin












Discussion about this post