MEGAPOLIS.ID, KOTABARU – PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun buku 2025 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp2,24 triliun, atau tumbuh 12 persen secara tahunan (year on year/YoY).
Kinerja ini diraih di tengah kondisi pasar semen domestik yang masih mengalami tekanan, terutama akibat melemahnya permintaan sektor konstruksi.
Dalam keterangannya, manajemen Indocement menyampaikan bahwa capaian tersebut tidak terlepas dari strategi efisiensi yang dijalankan secara konsisten serta ekspansi bisnis yang terarah.
“Perseroan berhasil menjaga kinerja laba melalui disiplin biaya dan optimalisasi operasional, meskipun volume penjualan domestik mengalami penurunan,” tulis manajemen dalam laporan tahunannya.
Secara rinci, Indocement mencatat pendapatan neto sebesar Rp17,73 triliun, turun 4,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun demikian, laba usaha justru meningkat 13,1 persen menjadi Rp2,70 triliun.
Sementara itu, EBITDA tercatat sebesar Rp4,26 triliun atau naik 8,5 persen YoY, dan laba tahun berjalan mencapai Rp2,24 triliun.
Manajemen menjelaskan, peningkatan laba tersebut didukung oleh penurunan beban usaha sebesar 1,1 persen serta adanya keuntungan dari divestasi sebesar Rp670 miliar.
Keuntungan divestasi tersebut berasal dari kemitraan strategis dengan PT Cipta Mortar Utama.
Di sisi ekspansi, Indocement memperkuat jaringan distribusi di kawasan Indonesia Timur sepanjang 2025. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah akuisisi dua terminal semen milik Semen Bosowa.
Adapun terminal yang diakuisisi meliputi Terminal Siawung di Sulawesi Selatan pada Agustus 2025 dan Terminal Lombok pada November 2025.
Selain itu, perseroan juga memperpanjang kerja sama operasional Pabrik Maros selama dua tahun guna menjaga stabilitas pasokan semen di wilayah tersebut.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam memperluas pangsa pasar di luar Pulau Jawa.
Dalam aspek keberlanjutan, Indocement menunjukkan peningkatan signifikan dalam penggunaan bahan bakar alternatif (alternative fuels and raw materials/AFR), yang naik dari 21,4 persen menjadi 29,0 persen pada 2025.(MIA)
Diterbitkan tanggal 6 April 2026 by admin













Discussion about this post