SORE itu, lalu lintas di Kota Banjarmasin berjalan seperti biasa. Kendaraan melintas, klakson bersahutan, orang-orang pulang dengan urusannya masing-masing. Di salah satu sudut jalan, sekelompok anak muda berdiri dengan kardus di tangan. Sebagian dari mereka masih canggung mengenakan almamater. Sebagian lain bahkan masih saling menghafal nama.
Mereka adalah mahasiswa baru yang belum lama masuk kampus. Namun hari itu, mereka tidak datang sebagai penonton. Gerakan ini mereka beri nama Maba Peduli Banjarmasin. Sebuah inisiatif sederhana yang lahir dari kegelisahan melihat bencana datang silih berganti, sementara terlalu banyak orang hanya bisa berkata “kasihan” tanpa melakukan apa pun. Aksi pertama mereka lakukan untuk membantu korban bencana di Aceh dan Sumatra. Dengan peralatan seadanya dan koordinasi mandiri, para mahasiswa baru ini turun ke jalan. Dari aksi tersebut, terkumpul dana sebesar Rp6.000.000, yang kemudian disalurkan masing-masing Rp3.000.000 untuk Aceh dan Rp3.000.000 untuk Sumatra melalui platform donasi resmi.
Belum lama aksi itu selesai, kabar lain datang. Kalimantan Selatan, tanah tempat mereka tinggal dan belajar, dilanda banjir. Pesan-pesan permintaan bantuan berdatangan. Foto-foto rumah terendam dan jalan yang tak bisa dilalui memenuhi layar ponsel mereka. Bagi sebagian orang, itu mungkin cukup untuk sekadar dibagikan ulang. Bagi mereka, itu alasan untuk kembali bergerak. Maka lahirlah Maba Peduli Vol. II. Sekali lagi mereka turun ke jalan, kali ini dengan tujuan membantu korban banjir di Kalimantan Selatan. Dari penggalangan langsung di lapangan dan donasi online, terkumpul dana sebesar Rp2.758.717.

Salah satu inisiator gerakan, Fajar Arifin, bersama rekan-rekannya lintas universitas M. Gilank Atha Hibrizi, M. Naufal Habibi, Denny Permana, dan Muhammad Sandy menyampaikan bahwa tidak ada rencana besar di balik gerakan ini. Yang ada hanyalah kesadaran bahwa menjadi mahasiswa bukan alasan untuk menunda kepedulian.
“Kami memang masih mahasiswa baru. Tapi ketika melihat orang lain kesusahan, rasanya tidak pantas kalau kami hanya diam,” ujar Fajar.
Gerakan ini dijalankan tanpa organisasi besar, tanpa sponsor, dan tanpa nama lembaga resmi. Semua dilakukan secara kolektif oleh mahasiswa baru lintas fakultas dan lintas universitas. Setiap donasi dicatat, dihitung bersama, dan dilaporkan secara terbuka sebagai bentuk tanggung jawab kepada publik. Di tengah anggapan bahwa mahasiswa baru masih harus banyak belajar tentang kampus, Maba Peduli Banjarmasin justru belajar tentang hal yang lebih dasar: bagaimana menjadi manusia yang peka.
Bagi mereka, kuliah bukan hanya tentang hadir di ruang kelas, tetapi juga tentang hadir ketika sesama membutuhkan.(rls)
Diterbitkan tanggal 21 Januari 2026 by admin












Discussion about this post