MEGAPOLIS.ID, KUPANG – Berbekal uang tiga juta rupiah dan sebuah motor Honda Astrea tua yang dimodifikasi seadanya, Akbar Setiawan memulai sebuah langkah berani. Pemuda asal Paringin, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalsel ini bukan sekadar pengembara biasa, ia adalah seorang sarjana Pendidikan Sejarah, Duta Pemuda Indonesia 2018, sekaligus pegiat literasi yang memilih untuk melihat Indonesia dengan mata kepala sendiri.
Langkah Akbar bukan tanpa bekal. Sebagai sosok yang aktif di KSB ULM dan Pecinta Alam Kompas Borneo, ia sudah terbiasa dengan alam. Namun, perjalanan dari Pelabuhan Trisakti dengan modal terbatas hingga kini tiba di Kupang, NTT, adalah sebuah perjalanan batin yang mendalam. Selama delapan bulan, ia telah singgah di berbagai pulau, bercengkrama dengan masyarakat, dan membantu sebisa yang ia mampu di setiap lokasi persinggahan.
Berikut adalah petikan obrolan hangat bersama Akbar Setiawan mengenai perjalanannya:
Sudah berapa banyak tempat yang dilewati, dan bagaimana kesan di masing-masing tempat tersebut?
“Saya sudah melewati sembilan tempat dalam perjalanan saya, dan masing-masing memberi kesan yang berbeda serta membentuk cara pandang saya terhadap kehidupan.
Saya memulai dari Jawa, tempat denyut kehidupan terasa cepat. Di sana saya belajar tentang kesibukan, keteraturan, dan bagaimana manusia bergerak dalam ritme yang hampir tak pernah berhenti. Jawa mengajarkan saya tentang kerja keras dalam kemajemukan. Berlanjut ke Bali, saya menemukan harmoni di tengah-tengah latar cerita patah mimpi manusia. Bali memberi kesan ketenangan—bahwa hidup tidak hanya tentang berlari, tetapi juga tentang berhenti dan merasakan.
Di Lombok, kesederhanaan menyambut saya. Alamnya jujur, manusianya bersahaja. Lombok mengajarkan saya sekali lagi arti syukur, mengikhlaskan, dan ketulusan dalam hidup yang tidak berlebihan. Sumbawa memberi kesan keteguhan. Bentang alamnya luas dan keras, namun menyimpan keindahan yang sunyi. Di sana saya belajar tentang kesabaran dan keberanian menghadapi keterasingan.
Perjalanan berlanjut ke Flores, tanah yang hangat oleh senyum, cerita, kemajemukan budaya, dan toleransi beragama. Flores meninggalkan kesan kekeluargaan yang kuat, sampai-sampai di setiap persinggahan saya beberapa kali diangkat menjadi keluarga, seolah setiap langkah selalu ditemani oleh rasa diterima. Di Adonara, saya merasakan ketegasan karakter dan kedalaman tradisi. Alam dan manusianya sama-sama kuat, mengajarkan saya tentang identitas dan keteguhan memegang nilai.
Lembata menghadirkan kesunyian yang jujur. Di sana, saya belajar mendengar—pada alam, pada diri sendiri, dan pada kehidupan yang berjalan perlahan. Banyak ketidaksengajaan pertemuan yang menjelma menjadi guru, mengajarkan saya bahwa dunia ini terlalu luas untuk berkata saya tahu segalanya, sekaligus menegaskan bahwa masih banyak yang harus dipelajari akan wawasan tentang Indonesia.
Di Alor, keberagaman terasa nyata. Lautnya indah, budayanya kaya, dan manusianya ramah. Alor memberi kesan bahwa perbedaan bukan untuk dijauhkan, tetapi untuk dirayakan. Banyak ketulusan yang saya rasakan di sana, sebab banyak cenderamata yang diberikan cuma-cuma sebagai simbol ketulusan tanpa meminta balasan. Terakhir, Kupang menjadi ruang persinggahan yang hangat. Kota dengan semangat bertahan dan harapan. Kupang memberi kesan tentang pulang—bukan sebagai akhir perjalanan, tetapi sebagai tempat merangkum semua cerita yang telah dilewati,”
Apa alasan terbesar melakukan pengembaraan panjang ini?
“Mungkin pemikiran ini terbentuk berasal dari kecintaan saya dalam dunia pendakian gunung, hutan, hingga alam. Setelah itu saya mulai tertarik membaca buku yang biasanya bercerita tentang perjalanan hebat orang-orang terdahulu; film atau konten YouTube yang saya tonton juga demikian.
Dan yang terbesar adalah lingkungan saya, di mana saya sering berkumpul dengan orang-orang yang sering bepergian jauh, entah itu merantau mencari nafkah, mencari ilmu (kuliah), club motor Vespa yang sering touring kemana-mana, hingga organisasi Mapala dan seni yang dulu sewaktu kuliah saya ikuti.
Begitu banyak hal yang menginspirasi saya untuk melakukan pengembaraan menjelajahi Nusantara ini, seperti Che Guevara, Soe Hok Gie, Agustinus Wibowo, Ibnu Batuta, Christopher McCandless, hingga Syaidina Ali. Ketika membaca biografi orang-orang hebat ini, secara tidak langsung saya memutuskan bermimpi bisa melakukan perjalanan hebat seperti orang-orang ‘gila’ ini,”
Berbekal Rp3 juta, bagaimana menyiasati dana dan kesulitan apa saja yang ditemui?
“Di perjalanan seperti ini, kita sebaiknya mempunyai banyak link teman (seperti club motor atau komunitas lainnya) untuk membantu kita dalam segi pengetahuan tentang daerah, mencari tahu pengalaman teman-teman terdahulu, atau bertanya kepada orang daerah tentang destinasi yang ingin dikunjungi dengan biaya murah.
Yang terpenting, ketika bertemu teman-teman komunitas, kita mencari informasi tentang pekerjaan apa pun untuk menambah pendanaan perjalanan ke depan. Semisal di suatu daerah itu kita tidak bertemu teman komunitas, kita harus siap untuk survive. Di situlah mental dan keteguhan kita mulai diuji.
Yang paling sulit adalah perbaikan motor, sebab motor rusak itu tidak ada di kalender. Entah itu kecelakaan, ban kempes, rantai putus, sampai mesin ceket (macet). Hal tersebut adalah dana yang harus disiapkan dan kadang membengkak jika kita tidak bisa memperbaikinya sendiri.”
Ke mana tujuan selanjutnya dan apa pesan untuk pembaca?
“Setelah mencoba mencari pekerjaan di Kupang, perjalanan akan berlanjut ke Saumlaki (Maluku), mencari kapal ke Papua menuju Merauke, lalu nanti berakhir di Sabang. Sekali lagi, pengetahuan dan banyak teman itu penting untuk menentukan arah angin yang akan membawa kita. Persiapkanlah mental dan keyakinan untuk menghadapi hal-hal yang tidak bisa diprediksi.
Untuk teman-teman yang ingin solo trip, bekali diri dengan mental dan pengetahuan. Kebanyakan rasa takut muncul karena ketidaktahuan kita akan suatu daerah. Di sini kita tidak mencari siapa yang paling jago berkelahi, tapi kita mencari cinta dan ketulusan dari saudara baru di setiap persinggahan.
Belajarlah untuk berdiri di kaki sendiri, jangan biasakan bergantung pada orang lain selain Tuhan, sebab bayangan kita saja bisa meninggalkan kita saat di dalam kegelapan. Jika kita tahu suatu hal akan berujung buruk, bisakah kita menghentikannya saat masih dalam keadaan bahagia dan ikhlas? Begitulah perjalanan. Jadikan semua hal baik atau buruk sebagai pelajaran hidup untuk kita menjadi dewasa dan lebih bijaksana. Hidup ini tidak ada yang benar-benar hitam dan putih.”
Nah, pembaca bisa mengikuti perjalanan Akbar lebih jauh melalui akun sosial medianya: Instagram: akbarrr_setiawann, TikTok: Senandung Pengembara
(Ditulis oleh: Rizky)
Diterbitkan tanggal 9 Januari 2026 by admin














Discussion about this post